Seperti persoalan partisipasi galeri seni yang tiap tahunnya selalu meningkat. Tahun ini, ada 173 galeri seni di 34 negara dunia yang ikut. Dalam sebuah wawancara, Lorenzo mengatakan Art Stage Singapore tentu saja tidak luput dari peningkatan art market atau pasar seni.
"Ya, setiap art fair di mana pun, pastinya selalu memikirkan pasar seni. Tentu saja karya yang dipajang di galeri tetap dijual. Tapi pasar seni bukan persoalan utama art fair," pungkasnya kepada detikHOT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di 'Art Stage Singapore', Lorenzo fokus pada karya-karya seniman Asia Tenggara. Menurutnya, seniman Asia punya tempat yang khusus di pameran yang didirikannya pada 2010 tersebut.
"Khususnya bagi mereka yang konsisten memajang karya tentang urbanisasi, lingkungan hidup, sosial, dan kebebebasan berekspresi," tuturnya.
Lorenzo juga sosok di balik suksesnya berbagai Art Basel yang ada di dunia. Ke depannya, dia memiliki visi dan misi terhadap Art Stage Singapore.
Simak: Art Stage Singapore 2016, Pertemuan Antara Asia dan Dunia
"At Stage menjadi lima terbesar di dunia. Selama ini Hong Kong dan Singapura menjadi dua kawasan yang bersaing dan lokasi yang multikultural untuk memajang karya seni. Art Stage memang masih muda dan banyak harus belajar. Tapi, kami akan menjadi mendunia, saya yakin itu," pungkas Lorenzo. Lorenzo kini tinggal dan bekerja di Lugano Swiss dan Singapura. Selain pendiri Art Stage Singapore, dia juga art dealer, kurator, dan penyelenggara pameran seni.
(tia/mmu)











































