Direktur Yayasan Kelola Amna S.Kusumo ditemui detikHOT di kawasan Cikini Jakarta Pusat beberapa waktu lalu mengungkapkannya. "Kami percaya untuk mendampingi seniman dan memberikan program Hibah akan menimbulkan program berkelanjutan," katanya.
Yayasan yang berdiri 15 tahun lalu itu memberi perhatian pada seni dan budaya Indonesia dengan menyediakan peluang belajar, akses pendanaan, dan informasi. Serta pertukaran budaya bagi seniman dan kelompok seni untuk terus melahirkan karya-karya berkualitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amna menceritakan ketika timnya tengah membuat buku 15 tahun Yayasan Kelola, salah seorang peraih Hibah mengatakan, "Apa jadinya seniman tanpa Yayasan Kelola," kenangnya.
"Kok sampai sebegitu pemikirannya, apa yang salah dan apa yang benar dengan ungkapan tersebut," kata Amna.
Menurut koreografer Nan Jombang asal Padang Ery Mefri, dengan adanya Kelola dapat membantu seniman mengelola sanggar, kelompok tari, dan lain-lain. "Pertunjukan kita banyak tapi nggak ada yang tahu cara mengelolanya. Seniman masuk sekolah, saya kira cara yang bagus untuk belajar manajemen seni," ungkapnya.
Namun, menurut pendiri Koalisi Seni Abduh Aziz, di usia Kelola yang ke-15 tahun, ada pekerjaan rumah tersendiri.
"Persoalannya bagaimana menumbuhkan Kelola-kelola yang lain. Ada program intervensi yang dilakukan Kelola dan itu seharusnya dilakukan negara, arts council atau yang lain. Dan program tersebut harus dipetakan bersama," tutur Abduh.
Hingga kini, program Yayasan Kelola yakni mengadakan program Magang Nusantara, Empowering Women Artist, Hibah Cipta Perempuan, Komunitas Kreatif, Teater Pemberdayaan, dan Hibah Seni.
(tia/mmu)











































