Karakter fantasi karangan Lewis Carroll itu membius anak-anak di setiap masanya. Dilansir dari Telegraph, Senin (6/7/2015), Profesor Will Brooker dari Universitas Kingston, London dalam sebuah buku budaya populer mengatakan setiap generasi menafsirkan cara yang berbeda dari 'Alice in Wonderland'.
Di tahun 1930, karakter tersebut dikira mengalami psikoanalisis. "Di masa ini, orang-orang memahami cerita dongeng ini tampak menyenangkan tapi di satu sisi pasti ada sesuatu yang lain dari kepribadian Alice," tulisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, baru di tahun 1960 Alice disebut dengan psychedelia dan 30 tahun kemudian ada yang menyebut keterkaitan penulis dengan gadis cilik itu dengan pedofilia. "Penulisnya dikira menulis di bawah pengaruh obat dan ganja. Mereka berpikir seperti itu," tulisnya lagi.
Baru di tahun 1990-an, terdapat kabar yang menyatakan cerita tersebut terinspirasi dari putri seorang teman Carroll yang mengalami kejadian pedofilia. "Orang-orang bertanya penulis yang tua kok bisa menceritakan kisah tentang gadis muda. Ada apa sebenarnya?"
Profsor Booker memang mengakui sang penulis sempat menulis di bawah tekanan obat-obatan. "Mereka memiliki opium dan laudanum di hari-hari tapi ia bukan tipe pria pengobat," katanya.
Cerita populer ini mulai diadaptasi ke layar lebar oleh Walt Disney pada 1951 silam. Salah satu yang dibuatkan versi lebih gelap dari Tim Burton di tahun 2010. Setelahnya ada video game, taman bermain hingga merchandise yang tak ada habisnya.
Jangan lupa baca kisah seniman Kinez Riza menjelajahi pedalaman Afrika, Kalimantan hingga residensi ke Kutub Utara, di Young&Famous!
(tia/tia)











































