Buku yang terbagi dalam dua bentuk yakni esai dan foto ini memuat hubungan timbal balik antara medan kebudayaan lokal, nasional, dan internasional. Seperti yang tercantum dalam situsnya, kumpulan ragam tulisan itu ditulis oleh pengamat, pekerja teater, seni dan kebudayaan yang berangkat dari dua hal.
Pertama, refleksi dan kritik atas kerja yang sudah dilakukan Teater Garasi. Kedua, mengenai diskursus seni budaya serta pandangan khusus atas repertoar Teater Garasi. Baik melalui kerja teater maupun pengaruhnya dalam seni kontemporer Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, Farah Wardani (Tubuh yang Keras Kepala. Antara Arsip & Repertoar: Menonton Kembali, Membaca Kembali Garasi), Nirwan Dewanto (Dua Belas Fragmen), Jennifer Lindsay (Ruang-Ruang Ketiga), Landung Simatupang (Teater Garasi, Sekelumit Catatan dari Keterlibatan Saya), Yoshi Fajar Kresno Murti (Menenun Sejarah Ruang. Membaca Teater Garasi Melalui Je.ja.l.an, Tubuh Ketiga dan Goyang Penasaran), Marco Kusumawijaya (Mempertunjukkan Kota), Intan Paramaditha (Goyang Penasaran: Catatan dan Perjalanan) dan Goenawan Mohamad (Catatan Kecil Tentang Teater).
Buku ini pun disunting oleh Nirwan Ahmad Arsuka. Hingga kini, teater yang berdiri 4 Desember 1993 tetap mengedepankan isu-isu sosial, politik, dan kebudayaan.
(tia/mmu)











































