Sepuluh hari berlalu sejak kematian penyair Sitor Situmorang di Apeldoorn, Belanda. Penyakit alzheimer yang dideritanya sekaligus umur 91 tahun menutup hidupnya. Dunia sastra berduka, sastrawan angkatan '45 tersebut berpulang.
Keluarga, kerabat dekat hingga para sastrawan Tanah Air bertandang ke Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Lokasi tersebut dipilih sebagai tempat persemayaman jenazah Sitor sebelum diberangkatkan ke Deli Serdang, Sumatera Utara.
Rencananya, jenazah Sitor akan dimakamkan pada 1 Januari 2015 mendatang di kampung halamannya di Harianboho, Tapanuli Utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bila nanti ajalku tiba/ Kubur abuku di tanah Toba/ Di tanah danau perkasa/ Terbujur di samping Bunda...," ujar salah seorang kerabatnya di tengah-tengah upacara adat di Gedung Serba Guna Galeri Nasional, hari ini.
Pembacaan puisi yang disebut oleh sejarawan JJ Rizal sebagai #DzikirPuisi tersebut adalah penghormatan terhadap sang penyair Toba. "Siapa pun bisa datang ke tempat persemayaman, siapa pun boleh membacakan karya-karyanya di hadapan jenazahnya," katanya kepada detikHOT.
Banyaknya sastrawan, penyair maupun budayawan yang bergabung dalam #DzikirPuisi tersebut, dinilainya sebagai apresiasi tiada batas terhadap Sitor. Sejak kemarin, kawan dan kerabat dekatnya berdatangan terus menerus.
Siang hari ini, jenazah Sitor akan diterbangkan menuju kampung halamannya. Mungkin sajak untuk ayah dan ibunya berjudul 'Harianboho' patut diungkapkan dengan kepergiannya kali ini.
'Ku yakin menemukan jalan selalu kembali padamu,
Jalan pulang ke lembah landai
Di tepi danau
Sepanjang pantai
'Ku yakin selalu padamu kembali
Di akhir nanti,
Saat kembara berakhir
Tiba saat pada musafir
Di ladang dan gerbang
Negeri-negeri ramah, tapi
Kau pun terkenang.
Betapa sering,
Puluhan tahun di negeri orang
Jadi tamu ragam cinta,
Namun penumpang jua.
Karena ketentuan masa lalu,
Tak dapat diulang,
Lahir sekali di pangkuanmu.
Ingatan jadi keyakinan terang.
Di seberang aku berada,
lahir sekali di pangkuanmu.
Ingatan jadi keyakinan terang
Di seberang aku berada
Kau di telapak terbawa,
Menanti di tiap langkah
Batu-batu lembah semula.
(tia/tia)











































