Tahun lalu, Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) membaca dan menulis kembali lakon-lakon teater dekade 70-an. Kini IDRF kembali dengan membaca lakon di masa awal kemerdekaan. Istilah 'Indonesia Futura' yang dipopulerkan oleh Ki Hadjar Dewantara ini dipilih sebagai tajuk festival.
"Istilah Indonesia Futura ini kami pinjam dan kami lepaskan dari konteks sejarah kala itu," ucap penata program IDRF Gunawan Maryanto kepada detikHOT.
'Indonesia Futura' merupakan istilah ketika Ki Hadjar Dewantara yang menunjuk kepada rombongan Sutan Takdir Alisjahbana dalam Polemik Kebudayaan (1930-an). Saat itu dalam Polemik Kebudayaan terdapat dua kubu yang saling bertentangan. Yakni Indonesia kelak (Indonesia Futura) dan Indonesia Realita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nantinya transkrip ini akan dibacakan di IDRF tahun ini," kata Gunawan.
Festival ini diarahkan oleh penulis naskah lakon senior dari Teater Koma Nano Riantiarno, ketua Yayasan Lontar John McGlynn, dan Direktur Kedai Kebun Forum Yustina W Nugrahaeni.
Gunawan menceritakan, lakon Indonesia memasuki fase berikutnya yakni revolusi. "Sampai sepuluh tahun berikutnya tema revolusi masih bertahan. Perubahan mendadak yang berlangsung dalam masyarakat itulah yang coba dipotret oleh para penulis lakon di masa itu."
Selain transkrip sidang BPUPKI naskah lain yang dibacakan dalam IDRF 2014 adalah 'Liburan Seniman' karya Usmar Ismail, 'Awal dan Mira' karya Utuy Tatang Sontani dan 'Bung Besar' karya Misbach Yusa Biran. Di antara ketiga lakon tersebut hanya Liburan Seniman' yang ditulis sebelum kemerdekaan (1944).
"Tapi lakon tersebut kami pilih karena berada di masa transisi, di antara era lakon propaganda dan lakon relovusi," katanya.
(tia/mmu)











































