"Misalnya mereka harus kirim proposal dulu, karya atau produk seni apa yang mau dipajang. Kita cek, lihat proposal, publikasinya di media social bagaimana, dan respons dari pecinta seni," kata salah satu penyelenggara, Patricia Wulandari kepada detikHOT.
Dari situ ketahuan apakah karya-karya tersebut termasuk dalam kategori Kopling atau tidak. Menurut Patricia, para seniman muda butuh wadah untuk mempublikasikan karyanya bersama-sama. "Bisa buat referensi atau media alternatif pamerkan karya."
Di Kopling sendiri, terdapat pameran tahunan yang selalu bertemakan kopi, pasar seni, dan pameran amal. Bagi para pengunjung yang datang diwajibkan membayar tiket masuk serta akan mendapatkan sebuah sebuah art print karya seniman Kopling.
"Mereka bebas memamerkan karyanya. Entah itu kolase, drawing, bantal-bantal artistik, action printing dan banyak lagi," katanya.
Konsep pasar seni yang ditawarkan Kopling pun berlatar belakang sederhana. Laiknya sebuah pesta kecil dengan adanya barbeque, ngopi, dan ngebir bareng.
Sama halnya dengan pameran kopi yang digelar di kedai kopi lokal. Mereka selalu membukanya dengan konsep santai, tidak kaku, tidak formal, dan bebas bagi siapa saja yang mau datang.
"Semua konsep ini sudah kami atur di awal dibangunnya Kopling. Karya mereka dipamerkan dengan konsep sederhana, nyantai dan beginilah pameran di Kopling," ujar lulusan sarjana teknik di Universitas Pelita Harapan ini.
(tia/ich)











































