Setiap hari, baik di kanvas, kayu, maupun media apapun, Widayat bisa melukis. Ia ingin otaknya tak mati, dan melukis apa yang ingin dilukis. Terkadang hanya coret-coretan sketsa, namun sebagian lain dikerjakannya tanpa konsep dan langsung di atas kanvas.
Bahkan ketika dua bulan puasa dia tak bisa melukis karena sakit, semangatnya tetap menggebu-gebu hingga mampu melukis di atas kain denim sepanjang 138 meter. Akhir pekan lalu, karya milik Museum Widayat ini dipamerkan di Gedung Tribakti, Jalan Jenderal Sudirman Magelang saat perayaan hari kelahiran Oei Hong Djien ke-75 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lukisan tanpa sambungan tersebut juga pernah mendapatkan rekor MURI. Serta dipajang di Galeri Nasional (Galnas), Jakarta. Oei sangat mencintai lukisan ini.
"Karya luar biasa ini tak bisa dipajang di museum. Di Galnas sangat terbatas karena harus mengikuti kontur ruangan. Ini adalah kesempatan kita untuk menikmatinya sebebas-bebasnya," ujar Oei saat memberi sambutan di Gedung Tribakti, Magelang, akhir pekan lalu.
Para pengunjung pun takjub dengan karya lukisan memakai spidol di atas kain denim. Ratusan tamu melihatnya dengan seksama terhadap setiap panel yang dibuat Widayat. Lukisan ini dipajang tanpa ada pembatas sehingga pengunjung bisa dengan leluasa melihatnya.
Ada gaya kubisme, ada gambar suasana pasar, wanita cantik tanpa busana, ada aktivitas anak-anak sedang bermain bahkan indahnya bunga sakura di Jepang. Widayat memang pernah belajar selama dua tahun di Jepang. Ia mempelajari seni membuat tanaman atau ikebana.
OHD mengatakan melukis itu bagi Widayat adalah makan sehari-hari. Kalau belum disantap, ia akan merasa lapar. Tanpa menunggu inspirasi, setiap hari ia duduk di depan kanvasnya dan bekerja. Fantasinya datang sendiri dan mengalir sekenanya. Tanpa terikat akan rutinitas monoton, karyanya makin greget.
Hingga akhir hidupnya, ribuan lukisan sudah dihasilkan dengan medium yang berbeda-beda. Semua itu tersimpan rapi di dalam Museum Widayat seluas 7000 meter persegi yang terletak di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur.
(tia/utw)











































