Bersama sang sahabat Yessy Hutabarat, wanita yang akrab disapa Disty ini mengembangkan UDW menjadi sebuah akademi tari profesional. Dia ingin menghapus stigma negatif penari yang dianggap rendah.
"Seorang penari, apapun jalurnya, mau penari latar, modern, tradisional, semua harus punya ilmu. Orang memandang menari itu pemanis saja. Padahal, menari tidak gampang," kata Disty kepada DetikHOT, Rabu (12/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menari tidak boleh instan. Kalau sekadar menari, ya bisa. Tapi, akan ada umurnya. Kalau mau maju, ya perlu pendidikan," ujarnya.
Disty menyadari bahwa sekolah khusus penari di Indonesia masih sangat minim. Fakta ini berbeda dengan yang terjadi di luar negeri seperti Amerika atau Eropa dimana sekolah khusus tari dan performing art begitu banyak.
Untuk mencetak penari berkualitas, UDW menerapkan kurikulum yang disusun sendiri. Tak hanya mencakup teknis menari saja, tapi juga ilmu mengenai bisnis dan pemasaran.
"Di UDW kami punya silabus dan kurikulum yang enggak cuma mencakup gerakan tarinya saja. Kami ingin ilmunya enggak mentok sebatas art performance sehingga penari itu benar-benar profesional dan multi-talenta," kata Disty.
(fip/ass)











































