Menjelang sore warga mulai bersantai di paguyuban, atau di teras rumah masing-masing. Para perempuan banyak yang menggunakan bedak dingin, seperti masker putih di wajahnya.
Lantas terlihat seorang bapak berusia lanjut sedang mengendarai sepeda ontel tua, dengan seulas senyum ramah kepada siapapun yang menyapanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan semangat detikHOT mengeluarkan jurus seribu kaki, dan berhasil mengejar kakek itu.
Ia bernama Marjuni, 60 tahun. Marjuni belajar musik dari ayahnya sendiri, yang juga bisa bermain alat musik secara alamiah.
"Semua alat musik saya bisa, seperti cello, gitar, ukulele, biola, saksofon," ujarnya (25/11/2013). Ia sendiri memiliki grup musik bernama Korsik kepanjangan dari Korps Musik. Disini tugasnya adalah memainkan alat musik tiup saksofon.
Di rumahnya, alat-alat musik ini bisa Anda jumpai, ia mengaku membeli alat musik ini di dataran Berau. Setiap bulan Agustus ia dipanggil ke Kabupaen Berau untuk unjuk kebolehan bermusiknya disana, baik untuk pentas maupun kompetisi.
Kini, ia memiliki delapan orang anak didik. "Saya ajarinya enggak pakai not balok, karena saya juga belajarnya kan otodidak." Ia mengajari anak didiknya itu dengan mulai bermain alat musik ukulele.
"Kalau dia sudah mulai lancar bermain ukulele, sudah bisa diajari alat musik lain satu per satu." Musisi yang mengusung aliran musik keroncong ini, juga sering mementaskan musiknya di desa Payung-Payung pada momen spesial, seperti hari jadi kampung tersebut.
Tanggal 7 Desember 2013 nanti, juga akan diadakan kompetisi musik keroncong se-Kalimantan Timur. Grup musiknya jadi salah satu yang diutus oleh Bupati Berau untuk unjuk kebolehan disana.
Marjuni menjelaskan empat saudara kandungnya semua adalah juga musisi. Ada yang lebih mahir main alat musik keroncong, namun ada juga yang lebih mahir mencipta lagu keroncong.
Musik di pesisir ini, memang tak jauh dari musik keroncong dan Melayu, yang dekat dengan keseharian mereka.
(ass/utw)











































