Tentu saja iya, tema uang selalu menarik untuk diperbincangkan. Masih dalam rangkaian perhelatan akbar 'Jakarta Biennale 2013', detikHOT mengulik salah satu tema pameran bertajuk 'Pelicin.'
Kenapa 'Pelicin'? Rata-rata warga Jakarta tentu tahu bahwa ada kalanya demi lancarnya sebuah urusan, harus tersedia uang pelicin, sogokan, amplop, atau apapun namanya di bawah meja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ayal banyak cerita-cerita unik dalam proses pengumpulan bahan bagi pamerannya. Ini kisahnya.
***
Pameran seni rupa 'Pelicin' merupakan bagian dari Jakarta Biennale 2013. Menurut perwakilan dari tim pameran, Riksa Afiaty, mereka mencoba merespons nilai 'uang' yang terjadi di masyarakat.
"Uang biasa disebut juga dengan pelicin. Nah, di sini kita mengumpulkannya dalam berbagai bentuk karya," katanya kepada detikHOT Selasa pekan lalu (19/11/2013).
Di antaranya berupa karya audio visual, fotografi, seri kolase, maupun video dokumenter. Berbagai kisah unik di balik pencarian karya-karya ini juga unik.

"Tema joki 3 in 1, Putri (salah seorang seniman) harus menjadi joki selama sebulan tiap pagi dan sore. Ini yang enggak dilakuin banyak seniman lainnya," ujarnya.
Karya ke-12 seniman muda yang terpilih dalam program pameran dua tahunan itu, berbeda dengan pendahulunya. Para seniman ini memberanikan diri melangkah keluar dari studionya.
Serta memilih kehidupan sehari-hari, selanjutnya mereka mengemasnya dalam bentuk yang menarik untuk dibahas.
Seperti Brian Suryajaya mengumpulkan referensi kesuksesan menurut pandangan umum praktik MLM.
Putri Ayu Lestari secara rutin menjadi joki 3in1.
Sulaiman Said merespon siasat dalam materi selebaran pencarian dana tunai, dan sms penipuan.
Uniknya lagi, ada karya instalasi seniman muda bernama Faisal Yeroushalaim yang memetakan praktik kejahatan dengan meninjau barang-barang curian. Serta menaruhnya di tilepjaya.tumblr.com.

Tak hanya itu saja, karya Ika Vantiani juga membahas mengenai bisnis perdagangan uang arwah. "Nah, praktik ini sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadikannya sukses," kata Ika.
"Itulah siasat warga dalam menghadapi kemelut kehidupan soal uang.Ini yang mau dikemukan oleh mereka di pameran Pelicin," katanya.
Pameran ini akan berlangsung sampai esok hari, saat penutupan Jakarta Biennale, 30 November 2013 di Galeri Salihara. Jadi selamat menikmati Pelicin tanpa takut terpeleset!
(tia/utw)











































