Dia berpendapat, instalasi dalam mal saat ini memang sedang tren karena pengaruh gaya hidup urban yang membutuhkan satu fasilitas serba lengkap.
"Karena 'crowd'-nya sekarang memang di mal. Satu destinasi lengkap, sekali parkir semua disana sehingga menghindar kemacetan di ibukota juga," kata Francis di Grand Indonesia Shopping Town, Selasa (12/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria lulusan Bath College, Inggris, dan Parsons School of Art and Design, Paris, itu bilang, menikmati seni bisa dilakukan dimana pun dan sangat tergantung pada perspektif masing-masing orang.
Instalasi seni dalam mal dapat dinikmati oleh mereka yang memang menyukai hal tersebut sebagai bagian dari relaksasi diri serta hiburan yang menyenangkan.
"Bisa saja (orang lebih menikmati instalasi seni dalam mal). Tapi, akan jauh lebih baik kalau memang sudah direncanakan dari awal pembangunan mal," ujarnya.
Saat ini, lanjut Francis, belum banyak mal yang merencanakan pembangunan dengan menyediakan konsep khusus untuk sarana pameran atau pertunjukan kesenian.
Padahal, masyarakat dirasa butuh mendapatkan ruang atau fasilitas berkesenian yang jauh lebih besar daripada sekarang yang ruang lingkupnya masih kecil.
"Akan lebih baik kalau dari awal perencanaan mal, perencana sudah menyediakan tempat pameran yang mudah diakses tamu dan juga bahan-bahan pameran," kata Francis.
Ada perbedaan atmosfer ketika ia ambil bagian dalam sebuah pameran di mal, hotel, maupun galeri. Terutama dari respon serta segmentasi pengunjung yang datang.
"Buat saya sama-sama menarik dan menyenangkan. Kalau mal pengunjungnya lebih ramai, kalau do hotel atau galeri lebih tenang," ujarnya
(fip/utw)











































