Beberapa di antara mereka adalah seniman serius yang memikirkan bagaimana menyajikan buah pikiran mereka dalam karya seni.
Bukan itu saja, bahkan mereka juga memahami pentingnya arsip dan dokumentasi karya mereka. Bahkan dalam bentuk digital dan disebarkan via internet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang dilakukan ISAD adalah asli inisiatif dan kerja sama antar jejaring seniman jalanan. Karenanya fokusnya adalah seni jalanan, maka yang dikembangkan adalah seni yang ada di ruang publi dan kota. "Seperti misalnya grafiti, mural,
stensil, stiker, poster," ujar Andi.
***
Dalam persiapan pameran arsip dan dokumentasi'Embrio', ISAD sempat melakukan ziarah arsip-arsip Indonesia. Mereka mengunjungi Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia.

"Display-nya enggak banget, kami mencoba mengakses data itu dan agak ribet. Untuk fotokopi atau print itu juga bayar, sekitar Rp 50 ribu," kata Andi.
ISAD juga sempat mengunjungi Perpustakaan Nasional, di Salemba dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Namun tampaknya Andi bersama ISAD kesulitan mendapatkan apa yang mereka cari. Ia pun menyimpulkan, bahwa arsip Indonesia di masa lalu kebanyakan didokumentasikan oleh orang-orang Belanda.
Andi menyayangkan masalah akses arsip ini. Menurutnya arsip sebagai salah satu sumber pengetahuan harusnya bisa diakses dengan mudah oleh seluas-luasnya warga.
"Ini kritik, bahwa seharusnya arsip kita bisa diakses, bisa melalui situs web salah satunya. Akses publik untuk arsip Indonesia itu penting banget," kata Andi.
Menurut Andi, salah satu pentingnya arsip diketahui secara luas oleh masyarakat adalah agar bila suatu ketika terjadi bencana alam besar, masyarakat tetap ada yang memiliki salinan arsip tersebut.
Secara sederhana, Andi menjelaskan bahwa Indonesia selalu mengandalkan memori kolektif. "Bedakan Shakespeare dengan cerita ketoprak, kalau Shakespeare dialihwahanakan jadi teater, film, buku, puisi," kata Andi.
"Sementara ketoprak, enggak ada naskahnya. Jadi naskahnya ada dimemori kolektif orang-orang Jawa, kalau mau dimainkan lagi harus berguru dulu dengan pemain ketopraknya."

(utw/utw)











































