Karya Seni Sebagai Medium Belajar Mengenai Banyak Hal

Menjelajahi Akar Budaya dan Konflik (6)

Karya Seni Sebagai Medium Belajar Mengenai Banyak Hal

- detikHot
Senin, 07 Okt 2013 15:02 WIB
Karya Seni Sebagai Medium Belajar Mengenai Banyak Hal
Papermoon Puppet Theatre di Museum Pahit Manis
Jakarta - Beragam panggung baik di Indonesia maupun internasional telah dimanfaatkan oleh kelompok Papermoon Puppet Theatre untuk menceritakan kisah dan menggambarkannya lewat geliat gerak-gerik boneka.

Pertunjukkan seni bagi pendiri Papermoon Puppet Theatre, Maria Tri Sulistyani, merupakan sebuah medium. "Karya seni adalah medium kami belajar mengenai banyak hal, dan juga medium kami untuk bicara dengan banyak orang," ujarnya.

Untuk ikut mengisi wacana seni dan budaya yang terkait dengan isu sosial, Maria berharap kelompok teater yang ia dirikan pada tahun 2006 ini bisa memberikan kontribusi melalui cara mereka sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Teater boneka bisa menjadi salah satu medium yang menarik untuk orang berbicara, tanpa membuat orang merasa dipaksa mendengar dan dipaksa setuju."

 
Bagi lulusan Komunikasi di Universitas Gadjah Mada ini, kehidupan sosial akan berjalan dengan baik saat semakin banyak orang bisa menghargai dan mendengarkan satu sama lain.

"Kami hanya ingin menjadi ruang kecil dimana para penonton dan kreator bisa saling mendengarkan, berpendapat dan belajar menghargai, lewat 1 jam dalam hidup mereka yang mereka sediakan saat menonton pertunjukan kami," ujarnya.

Bila ditarik lebih jauh soal bagaimana keterkaitan antara budaya dan konflik, Maria memaparkan pemikirannya. Menurut perempuan kelahiran 4 November 1981 ini, perbedaan karakter budaya di setiap tempat tentu menimbulkan karakter konflik yang berbeda-beda juga, dengan cara penyelesaian yang berbeda-beda.

Tapi juga tidak ada salahnya, kalau kita mempelajari cara orang lain menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda-beda. Karena mungkin kita juga bisa belajar menyelesaiakan masalah kita dengan cara yang lebih baik.

"Hidup di negara seperti Indonesia dengan kebudayaan yang beragam, ternyata juga rawan menimbulkan banyak konflik, karena banyaknya kepentingan yang berbeda pula," kata Maria.

Tapi di satu sisi ia percaya, bahwa budaya juga bisa menjadi jalan untuk meredam, mengurangi atau bahkan bisa membuka mata orang lain untuk menjadi jalan awal penyelesaian masalah.

Baginya, seni yang erat sebagai cermin sebuah bangsa, berperan untuk membuat sesuatu jadi terasa lebih indah, demi bisa menghargai diri sendiri dan juga hal lain di luar kita.

Ia melanjutkan, bahwa publik Indonesia sangat siap untuk menerima perkembangan seni di Indonesia. Daya serap masyarakat Indonesia dan karakternya yang sangat terbuka sebenarnya sangat memudahkan para kreator untuk mempresentasikan karyanya.

"Dan ini justru jadi pekerjaan rumah yang cukup besar bagi para kreatornya sendiri. Seberapa siap kita membuka diri atas publik yang sangat apresiatif ini. Seberapa jauh kita mau berbicara dengan mereka," tuturnya.

Dalam frame global, bisa dibilang Papermoon Puppet Show telah mencuri perharian warga dunia. Ini dijelaskan oleh Maria sebagai buah dari kerja keras dan kemampuan para seniman lokal untuk menjual dirinya sendiri.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia dirasa belum bisa melihat seni sebagai sebuah keutuhan pemikiran yang bisa menjadi cara hidup manusia.

Maria berharap suatu saat kelak, seni Indonesia terutama seni tradisi di mata pemerintah Indonesia, tak melulu dijual sebagai komoditas pariwisata ke masyarakat dunia. "Bahwa seni bukanlah sekedar 'dagangan' dan barang eksotis yang bisa dijual, tapi justru menyentuh aspek pendidikan, teknologi dan cara hidup," kata Maria.

***

Di luar pembahasan tadi, Maria juga menceritakan bagaimana proses pembuatan boneka yang mereka pentaskan ini. Menurutnya, semua orang dalam tim di Papermoon harus bisa membuat boneka dan tentu saja harus bisa memainkannya.

Untuk proses pembuatannya sendiri, sangat bergantung akan tingkat kerumitan dari konsep pementasannya. "Berapa lamanya tergantung seberapa rumit konsep pementasannya. Beberapa karya kami yang berdurasi kurang lebih 45 menit sampai 1 jam, ini disiapkan dalam waktu 6 bulan sampai 1 tahun. Tapi beberapa karya pendek bisa disiapkan dalam waktu 1 bulan," kata Maria.

Tak terhitung boneka yang dimiliki oleh Papermoon Puppet Theatre. Ini juga memerlukan perawatan khusus. Seperti disimpan di dalam lemari kaca, secara rutin harus dikeluarkan dan 'diangin-angin', bajunya dicuci dan bila catnya rusak akan dicat kembali. Inspirasi karakter wajah boneka sangat beragam."Tapi semua tentu dimulai dari dari karakter yang kita buat di ceritanya."




(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads