Inilah yang menjadi tema dalam penyelenggaraan pekan Budaya & Konflik selama 29 September - 6 Oktober 2013 di GoetheHaus, Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat.
Oleh tim dari Goethehaus, pekan budaya diisi dengan beberapa pemutaran film, diskusi budaya, teater boneka, pameran seni, peluncuran buku, pertunjukkan tari dan pembacaan sastra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gong pembuka pekan budaya ini adalah pemutaran film berjudul 'Spielzeugland', karya Jochen A. Freydank, pada Minggu (29/9/2013) lalu. Film pendek berdurasi 14 menit ini pernah memenangkan Piala Oscar pada tahun 2009 silam, sebagai film pendek terbaik.
Film ini menarasikan kondisi negeri Jerman pada 1942. Menggambarkan tentang kekerasan Nazi yang hendak mendeportasi kaum Yahudi ke kamp konsentrasi. Mengharukan tanpa menampilkan tindakan kekerasan Nazi.
Katrin Sohns, Kepala Program Budaya GoetheHaus menajabarkan alasan pentingnya film ini harus diputar. Katrin lahir dan dibesarkan di Jerman. Negara dimana masa lalu penuh kekerasan saat Adolf Hitler berkuasa pada 1933, terus menghantui.
"Ia menjalankan sebuah pemerintahan diktatorial di Jerman, yang ditandai dengan teror dan kekerasan" kata Katrin.
Katrin memaparkan rezim Nazi tidak hanya bertanggung jawab atas mulainya Perang Dunia II. Sepanjang tahun 1933 - 1945, mereka juga bertanggung jawab atas jatuhnya lebih dari 6 juta korban orang Yahudi dan minoritas lain yang secara sistematis dibunuh pada kamp-kamp konsentrasi.
"Selama masa sekolah, dengan pelajaran sejarah kami selalu diingatkan akan masa lalu kami yang memalukan ini. Agar tidak pernah mengulangi hal ini."
***
Saat mempelajari dengan seksama sejarah ini, Katrin menemukan berbagai pembahasan dan sudut pandang yang terus berkembang tentang soal ini.
Sebuah momen penting menandai perkembangan debat tentang Nazi adalah ketika tiba-tiba rakyat Jerman diperbolehkan membahas warga Jermanyang menjadi korban. Sebelumnya hal ini tidak diizinkan.
"Sebab kami dianggap sebagai pelakunya. Yang menandai peristiwa penting ini adalah terbitnya dua buku," Kata Katrin. Buku yang pertama adalah karya Gunter Grass berjudul 'Crabwalk'. Buku ini berfokus pada peristiwa tenggelamnya kapal Wilhelm Gustloff, pada 1945. Kapal ini terisi penuh oleh para pengungsi yang hendak kabur dari tentara Soviet.
Buku kedua adalah karya Jorg Friedrich, berjudul 'The Fire'. Buku yang rilis pada 2002 ini menggambarkan peristiwa pemboman di Hamburg, Jerman oleh tentara sekutu.
Pembahasan umum yang terjadi saat ini mengusulkan agar rakyat Jerman juga melihat penderitaannya sendiri sebagai korban. "Langkah ini membantu kami, rakyat Jerman, untuk menatap ke depan dan berdamai dengan masa lalu kami."
Katrin coba mengkolaborasikan latar belakang sejarah Jerman dengan acara ini, dan membuka pekan budaya dengan film tadi. Katrin berpikir sangat penting untuk memicu debat soal hal ini secara internasional.
"Kita semua tahu bahwa dunia saat ini hanya sedikit lebih damai dari dunia sebelumnya. Banyak kekerasan lain, belum tersorot karena tak ada yang memperhatikannya. Kita senantiasa berhadapan dengan kekerasan dan konflik," ujarnya.
Sebagai lembaga budaya GoetheHaus merasa penting untuk membahas isu kekerasan ini. Mereka juga ingin menekankan bagaimana pentingnya mengetahui masa lalu dan berdamai dengannya, agar bisa lolos dari lingkaran kekerasan.
Sementara contoh seni, seperti buku, pemutaran film dan pementasan itu menunjukkan peran penting mereka dalam dunia seni dan ini bisa memicu debat publik.
(utw/utw)











































