Seniman, Irwan Ahmett juga tertarik untuk memanfaatkan ruang publik sebagai tempat baginya untuk berkesenian dan menyiarkan pandangannya.
Namun ia menggunakan cara yang beda dari para seniman jalanan. Kepada detikHOT, 7 September 2013 di studionya, ia menjelaskan bahwa gerakan ini dinamakan Post-Grafiti atau seni jalanan setelah grafiti. "Cara-cara yang digunakan berbeda, attitude-nya berbeda. Kalau ini lebih ke mind-set."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya ia juga membuat karya berjudul Transaction Shelter. Sebuah pos Polisi yang masih berada di ring-1 Istana Negara, ia tambahkan batako untuk benar-benar menutup temboknya. Dengan itu, transaksi ketika akan ada penilangan, tak perlu sembunyi-sembunyi lagi, bukan?
Pria kelahiran tahun 1975 ini mengaku dalam membuat karya, hal yang tersulit adalah pada proses penggodokan ide. "Setiap ada ide, itu enggak bisa gitu aja dibawa ke publik," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa di studionya, ia harus memecah idenya hingga menjadi bagian terkecil yang padat. "Kalau sudah sampai tahap itu, ketika di rilis. Kita enggak perlu ngomong lagi, orang sudah bisa paham."
Dalam membuat karya, ada dua riset yang wajib ia lakukan. Yang pertama adalah riset persepsi. Ini untuk melihat apa persepsinya terhadap sebuah kasus itu benar atau tidak.
Subyektivitas tetap ada, namun ia merasa hal ini perlu diukur dalam skala yang umum. Kedua adalah riset tehnis, untuk menentukkan tekhniknya mau pakai apa, misal foto atau video atau dengan performance.
Irwan menjelaskan bahwa dalam praktek-praktek seni hingga masa sekarang, hal ini belum banyak dilakukan. Alasannya karena ini tidak menjual. Ia memberikan gambaran atas seninya sebagai sebuah upaya dari dirinya dalam merespon sebuah konteks.
"Ini sebagai pemberontakkan kecil terhadap kepatuhan, menertawakan peraturan, melihat masalah dalam sisi lain yang berbeda dan menyampaikan kembali permasalahan itu dengan cara-cara yang orang enggak pernah duga."
Ini sekaligus menjelaskan peran seni dalam pemahannya. "Seni itu sebagai penyeimbang. Di masyarakat mungkin orang sudah terlalu berat akan segala sesuatu yang disetir atau informasi yang sudah overload," jelasnya.
Maka seni sebagai suatu gagasan independen, yang tidak terkait dengan agensi manapun dan tidak terkait dengan kepentingan apapun, bisa membuka wacana baru.
Sejak tiga tahun lalu, ia mulai sering melakukan banyak pameran di negera-negara seperti Inggris, Norwegia, Jepang, German, Belanda, Turki, Amerika Serikat, dan masih banyak lagi. Oktober ini ia akan turut serta dalam Singapore Biennale dan akan tinggal disana selama kurang lebih tiga minggu disana.
Menurutnya seni rupa di Indonesia itu jauh lebih maju dibandingkan dengan negara-negara se-Asia Tenggara."Faktornya menurut saya, di Indonesia itu seni dari awal turut serta dalam mendefinisikan bentuk negara. Dari awal bergelut dengan politik dan identitas sebuah bangsa."
Jadi, seni di Indonesia itu sangat dekat dengan kultur berbangsa dan ini berbeda dengan seni yang ada di Malaysia, Filipina atau Singapura. "Jadi disana (negara Asia Tenggara lainnya) dinamikanya kurang liar," jelasnya.
Lalu, menelisik kedekatan seni dan aktivisme di Indonesia. Irwan menjelaskan, bahwa dari runutan sejarahnya, ini memang sudah mengakar. Ini mulai berjarak pada rezim Soeharto dan setelah reformasi ada, hal ini kembali muncul ke permukaan.
(utw/utw)











































