Dunia Kurasi Indonesia, Lahan Luas Pendidikan Minim

Mengulik Profesi Kurator Seni (5)

Dunia Kurasi Indonesia, Lahan Luas Pendidikan Minim

- detikHot
Jumat, 16 Agu 2013 14:54 WIB
Dunia Kurasi Indonesia, Lahan Luas Pendidikan Minim
karya Natasha Gabriella Tontey
Jakarta - Kapan profesi kurator seni mulai ada di muka dunia ini? Agak susah juga menjawabnya. Yang pasti mereka mulai ada seiring perkembangan seni kontemporer. Istilah kurator sendiri berasal dari bahasa Latin curare yang berarti mengurus. Seorang kurator sering disebut sebagai penjaga warisan kebudayaan.

Di Amerika, ia disebut sebagai kepala divisi dari sebuah organisasi budaya. Menurut kurator Coast Guard Museum di Amerika, Valarie J.Kinkade, pada umumnya mereka yang mempunyai predikat kurator memegang gelar akademik dalam sejarah seni, arkeologi, maupun filsafat.

“Mereka juga bisa memberikan konteks kepada publik atas karya. Serta punya pengetahuan penting terhadap keahliannya,” kata Carly Chynoweth seperti dilansir dari Times.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Tommy F.Awuy, sejarah adanya seni kurator di dunia sudah ada sejak tahun 1920-an. “Di Indonesia, perdebatan ini baru ada di atas tahun 1990-an,” katanya kepada detikHOT.

Sejarah panjangnya itu, lanjut Tommy, berkaitan dengan perkembangan seni kontemporer modern. “Awalnya diprakarsai oleh seniman ISI Yogya, ITB Bandung, dan IKJ diakhir 1980-an, tapi baru berhembus kencang tahun 1990-an. Dan lebih kencang lagi ketika masuk ke istilah seni rupa postmodern,” ujarnya.

Di era tersebut, Tommy sendiri sudah bertindak sebagai seorang kurator. “Perdebatan itu mengubah dari yang old master ke generasi urban yang melihat realitas secara berbeda.”

Setelah itu, muncul seniman baru dan membutuhkan galeri seni yang lebih banyak. Baru di atas tahun 2000-an, bertebaran galeri komersil maupun non komersil. Kebutuhan akan kurator jadi semakin besar.

“Tahun 2007 sampai 2010, Bursa Efek Jakarta krisis, para pialang yang punya duit itu punya gairah meletup, ada duit tapi mau dikemanakan? Mereka lalu lari beli lukisan,” katanya.

Pemilik PhiloArt Space di Kemang Timur ini mengaku saat itu hampir bisa menjual lukisan Rp 700 juta. Meski seniman, galeri, dan kurator bertebaran, namun kondisi perkembangan pasar selama dua tahun belakangan ini sedang lesu. Sedangkan

Adapun kurator seni visual Ade Darmawan, mengatakan di Indonesia secara akademik tidak adanya curator studies. Apalagi lembaga pendidikan yang mengarsipkan dan mengajarkan menjadi kurator sangat minim.

“Kita hanya ada sejarah Indonesia yang klasik seperti seni patung, candi-candi, dan sebagainya."

Di pendidikan Departemen Seni Rupa yang ada, kata Ade, hanya mengajarkan kelas manajemen seni yang mengajarkan sebagai seniman, bukan kurator.


(utw/fip)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads