Di tengah pesta musim panas yang penuh gairah, Julie, putri bangsawan, menyelinap ke dapur dan menggoda pembantunya, Jean yang tampan. Pria itu gemetar, dan dengan kesopanan seorang abdi kepada tuannya Jean pun melontarkan nasihat-nasihat dan petuah. Tapi cinta dan nafsu telanjur mendidih di malam musim panas itu.
Maka, malam pun jadi panjang dalam lakon 'Miss Julie' yang dipentaskan kembali oleh sutradara Joseph Gintings, kali ini bersama Teater Luwes. Ia pernah mementaskan lakon yang sama bersama Teater Lembaga di Taman Ismail Marzuki pada 1999. Sama halnya dengan pentas kala itu, kali ini Gintings kembali mempercayakan panggung pada duet Ine Febriyanti dan Arswendy Nasution, masing-masing sebagai Miss Julie dan Jean.
Pentas yang akan digelar di Salihara, Jumat (1/6/2012) hingga Minggu (3/6) pukul 20.00 WIB tersebut membuka Forum Lakon Adaptasi yang dihelat setiap akhir pekan sepanjang Juni 2012. 'Miss Julie' adalah lakon terkenal karya sastrawan Swedia August Strindberg yang ditulis pada 1888. Joseph Gintings dan Teater Luwes, Jakarta mementaskan naskah versi terjemahan penyair Toto Sudarto Bachtiar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Panggung dibuka dengan suasana pesta yang riuh pada suatu malam musim panas. Jean melihat pesta itu dengan kejijikan seorang pria kelas bawah pada masyarakat kelas atas. Ia pun berlalu, dan masuk ke dapur untuk bertemu Kristin sang juru masak, yang juga kekasihnya. Mereka membahas tingkah polah nona muda mereka, Julie. Tanpa disangka, tak lama kemudian Julie pun menyeruak masuk ke dapur.
Hal itu membuat suasana jadi tidak enak, namun Julie secara terang-terangan justru merayu Jean di depan Kristin. Semakin nekad, ia pun menyeret Jean keluar untuk menemaninya berdansa di arena pesta yan masih membara. Antara patuh dan tak berdaya, Kristin rela meminjamkan kekasihnya kepada sang majikan, namun semua itu bukan tanpa konsekuensi sesudahnya. Kelakuan Julie yang tak biasa bukan hanya menimbulkan gunjing, tapi juga menjerat Jean, Kristin dan Julie sendiri dalam situasi yang pelik, dan nyaris tak memberi jalan keluar.
Ine Febriyanti dan Arswendy Nasution menjadi pilar utama pertunjukan ini. Dialog yang panjang dan "berat" mereka libas dengan baik. Keduanya memperlihatkan kekuatan akting yang terjaga dari awal sampai akhir. Dan, bagi penonton hal itu juga perlu tenaga tersendiri untuk bisa intens mengikutinya, mengingat dialognya begitu padat. Keinginan Julie untuk "menurunkan kelasnya", yang disambut dengan kegamangan sekaligus perasaan superior Jean sebagai pria kelas bawah yang tampan dan pintar, melahirkan dialog yang menelanjangi norma-norma dan martabat yang menyelubungi hubungan antarkelas.
Dengan simbol-simbol yang berbau Eropa, termasuk gaun Mis Julie yang megah dan elegan (dikerjakan oleh tim dari IKJ), pentas 'Miss Julie' terasa sangat relevan dengan situasi sosial masyarakat saat ini. Dimana sentimen kelas masih terus membayangi pergaulan sosial, yang menuntut orang-orang di dalamnya untuk selalu mendefinisikan kembali soal-soal cinta, nafsu, hingga harga diri. 'Miss Julie' menelanjangi relasi-relasi dalam masyarakat yang penuh kepalsuan.
(mmu/mmu)











































