Pendekar Kelana: Silat Dalam Bingkai Teater

Pendekar Kelana: Silat Dalam Bingkai Teater

- detikHot
Jumat, 08 Jul 2011 09:06 WIB
Pendekar Kelana: Silat Dalam Bingkai Teater
Jakarta - Minim dialog dan mengandalkan gerak tubuh. Ya, teater silat bertajuk 'Pendekar Kelana' memang merupakan pertunjukan seni non-verbal yang lebih mengedepankan aksi.

Tentu saja gerakan silat yang lentur disertai tenaga dalam khas perguruan Merpati Putih. Memang salah satu sajian langka karena di banyaknya teater musikal yang ada, teater silat ini menjadi yang pertama kali digelar.

Banyak gerakan silat yang dipertunjukan di teater berdurasi 90 menit tanpa jeda itu, tidak hanya gerakan, pertunjukan yang disutradarai Atien Kisam itu memasukan unsur humor yang membuat penonton tertawa di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (7/7/2011) malam. Gerakan tersebut juga dipadu dengan pembuktian kesaktian silat seperti mematahkan balok es dan benda keras lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak jarang mereka juga mengajak penonton naik ke atas secara spontan untuk ikut serta membuktikan kesaktian tenaga dalam seni bela diri asal Yogyakarta itu. Memang tak hanya minim kata, dari segi tata cahaya pun bisa pula dibilang minim. Latar pun tak banyak 'bicara'. Namun perhelatan ini memang lebih mengutamakan gerakan lentur dan luwes dari silat itu sendiri yang ditampilkan.

Benar saja, teater itu langsung dibuka dengan adegan gerakan silat tanpa bertarung atau solois dari lima pria yang diiringi musik kontemporer. Ditambah ada salah satu perempuan di barisan itu yang memainkan variasi gerakan dengan sepasang senjata sejenis pisau di tangannya yang ditampilkan dalam jurus-jurus khas silat.

Dikisahkan ada seorang pemuda bernama Kelana murid dari sebuah perguruan yang menjalin cinta dengan gadis manja bernama Maharani yang tak lain adalah adik seperguruannya.

Di samping itu terjadi sebuah tiran di sudut kota tersebut. Preman dan pungutan liar merajarela di tempat mereka tinggal. Melihat kejadian ini, Kelana dan teman-teman seperguruannya tak bisa tinggal diam.

Keberanian mereka pun timbul untuk membela warga yang tertindas. Namun tak disangka, di balik keresahan itu, Lurah mereka sendiri yang menjadi mafia premanisme dan pungutan liar itu, yang tak lain adalah ayah kandung Maharani. Sang lurah pun diadili massa yang geram atas ulahnya.

Kelana pun menjadi sosok pahlawan bagi warga karena menjadi tokoh sentral dalam menumpas Lurah curang itu. Namun Maharani melihat sendii bagaimana sang ayah diadili terlebih sang kekasih yang memberi pelajaran kepada sang ayah. Akankah Maharani meninggalkan Kelana?


(kmb/hkm)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads