"Usaha itu tak lancar," aku John McGlynn. Ia pun kemudian membuat gebrakan. Menerjemahkan karya-karya sastra Indonesia dalam jumlah yang banyak sekaligus, lalu menawarkannya lewat website di berbagai negara. Siapa yang berminat, bisa memesan untuk dicetakkan.
"Ya, sekarang kita terbantu dengan sistem print on demand," tambah sarjanan sastra Indonesia pertama dari Amerika Serikat itu. John mendirikan Yayasan Lontar sejak 1987, dan telah menerjemahkan banyak karya sastra Indonesia. Ia juga menerbitkan Jurnal 'Managerie' secara berkala untuk memperkenalkan sastra Indonesia kepada dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama sepuluh karya itu, nanti dalam tiga sampai lima tahun ke depan targetnya limapuluh buku," papar John.
Kalangan sastrawan, utamanya yang karyanya diterjemahkan, menyambut gembira usaha yang dilakukan Yayasan Lontar. Sastawan senior Putu Wijaya misalnya, yang novelnya berjudul 'Telegram' masuk dalam program 'Modern Library of Indonesia' mengaku terharu.
"Telegram sudah difilmkan, dan diterjemakan ke dalam banyak bahasa, namun ke dalam Bahasa Inggris baru kali ini, setelah 40 tahun terbit," ujarnya.
Putu paham benar bahwa menjual sastra Indonesia ke publik dunia merupakan upaya yang susah. Namun, berbagai usaha memang perlu dicoba.
"Pasarnya memang belum tentu ada. Kadang hanya perlu bukti bahwa ini ada, laku atau tidak masalah lain. Dan, saya ini kampungan, diterjemahkan saja sudah seneng," kelakarnya.
Khusus untuk publik sastra di Tanah Air, 10 karya yang diterjemahkan di bawah program 'Modern Library of Indonesia' bisa didapatkan langsung di toko buku. Berikut daftar lengkapnya:
1. Never the Twain (Salah Asuhan, Abdoel Moeis, 1928)
2. Shackles (Belenggu, Armijn Pane, 1940)
3. The Fall and the Heart (Kejatuhan dan Hati, S Rukiah, 1950)
4. Mirah of Banda (Mirah dari Banda, Hanna Rambe, 1986)
5. Family Room (kumpulan cerpen Lily Yulianti Farid, 2008-2009, edisi Indonesia belum terbit)
6. And the War is Over (Dan Perang pun Usai, Ismail Marahimin, 1977)
7. The Pilgrim (Ziarah, Iwan Simatupang, 1969)
8. Sitti Nurbaya (Marah Roesli, 1922)
9. Telegram (Putu Wijaya, 1973)
10. Supernova: The Knight, The Princess and the Falling Star (Dee, 2001)
(mmu/mmu)











































