Midnight Mass: Bukan Pemberkatan Biasa

Candra Aditya - detikHot
Senin, 27 Sep 2021 20:42 WIB
MIDNIGHT MASS (L to R) HAMISH LINKLATER as FATHER PAUL in episode 103 of MIDNIGHT MASS Cr. COURTESY OF NETFLIX  2021
(Foto: COURTESY OF NETFLIX/COURTESY OF NETFLIX) Di Midnight Mass, Mike Flanagan mau menggarisbawahi apa yang terjadi kalau manusia terlalu terobsesi dengan ilmu agama. Dan hasilnya memang sangat menyeramkan.
Jakarta -

Riley Flynn (Zach Gilford) adalah seorang venture capitalist yang berhasil. Tapi kita tidak pernah melihat keberhasilanya karena begitu Midnight Mass dibuka, kita melihatnya duduk di pinggir jalan, mulut komat-kamit berdoa kepada Tuhan sementara di depannya adalah mayat korban tabrakan yang baru saja ia lakukan. Riley akhirnya masuk penjara dan empat tahun kemudian dia kembali ke tempat yang ia tinggalkan, Crockett Island. Sebuah pulau kecil dengan penduduk kurang dari 200 orang. Kemana pun ia pergi, hantu dari malam itu akan selalu mendatanginya.

Nama Mike Flanagan mungkin bukan nama yang asing lagi bagi pecinta horor. Sejak dia menggebrak lewat Absentia satu dekade silam, Flanagan berkali-kali membuktikan bahwa dia pencerita yang ulung sekaligus pembuat tontonan penggedor jantung yang mumpuni. Baik dalam skala indie (Hush, Oculus) atau skala blockbuster (Ouija: Origin of Evil, Doctor Sleep), Flanagan selalu bisa membuat penonton menutup mata mereka.

Tapi medium TV (atau dalam kasus ini, streaming) adalah medium yang paling membesarkan namanya. Dua jilid The Haunting (Hill House dan Bly Manor yang dirilis tahun lalu) mengenalkan penonton ke Flanagan versi baru. Flanagan yang sabar dalam bercerita. Flanagan yang tahu bagaimana menyempilkan adegan seram ke dalam drama. Flanagan yang menyadarkan penonton bahwa karya horor yang dibuatnya adalah sebuah kamuflase untuk bercerita lebih tentang manusia-manusia yang ada di dalamnya.

Midnight Mass adalah Flanagan dalam edisi paling niat. Miniseri yang ini mungkin yang paling ambisius dibandingkan karya-karya Flanagan sebelumnya. Seperti halnya dua jilid The Haunting, Midnight Mass mempunyai muatan yang lebih berat daripada serial horor kebanyakan. Ya, Anda akan melihat kengerian dalam miniseri ini. Tapi Flanagan sekali lagi mengecoh penonton dengan hipotesanya yang baru: adakah yang lebih menyeramkan daripada kepercayaan yang terlalu membutakan?

Eksplorasi hubungan manusia dan Tuhan jelas bukan pertama kalinya hadir dalam film horor. Dan saya yakin Midnight Mass bukan film horor terakhir yang akan membahas soal ini. Tapi ada sesuatu yang sangat menghantui dengan cara Flanagan menggambarkan ini dalam Midnight Mass. Mungkin karena lebih dari biasanya, Flanagan benar-benar mengulur waktu untuk membuat kita terjun ke dalamnya. Dua episode pertama murni adalah pengenalan karakter dan world building yang sangat serius. Sehingga ketika kegilaan mulai diperkenalkan di episode ketiga, saya sebagai penonton hanya bisa komat-kamit membaca doa.

Riley bukan satu-satunya orang yang "tersesat" di Crockett Island. Pulau ini sendiri terisi dengan orang-orang yang tersesat meskipun mereka memproklamirkan diri mereka baik-baik saja. Selain dirinya, ada Erin Greene (Kate Siegel, isti Flanagan sekaligus muse-nya), seorang guru yang sedang hamil tanpa kehadiran suami yang abusive. Annie Flynn (Kristin Lehman), ibu Riley yang terus-terusan mencari jawaban atas masalah keluarganya dengan ke gereja. Leeza Scarborough (Annarah Cymone), seorang remaja yang lumpuh. Dan tentu saja, Bev Keane (Samantha Sloyan), seorang tokoh masyarakat sekaligus staff gereja yang kelakuannya akan membuat Anda mengelus dada.

Kedatangan Riley kembali ke Crockett Island juga dibarengi dengan datangnya Father Paul Hill (Hamish Linklater) yang kharismatik tapi sangat misterius. Pengenalannya saja sudah lebih dari misterius: dia memasuki ruangan dengan koper besar seukuran manusia. Ketika kita mendengar ada suara ketukan dari dalam koper tersebut, saya sebagai penonton hanya bisa bertanya-tanya apa yang sebenarnya ia coba sembunyikan. Dan ternyata saya tidak suka dengan jawaban tersebut.

Berbeda dengan film-film Flanagan yang lain, Midnight Mass minim jump scare meskipun teknik tersebut masih ada di awal-awal episode. Jump scare yang ada dalam miniseri ini sangat minimalis. Anda kedip dan Anda akan kehilangan momen (meskipun musiknya memastikan Anda akan tetap sadar saat menyaksikannya). Tapi sepertinya memang bukan bagian supranaturalnya yang ingin Flanagan eksplor di miniseri ini. Dalam Midnight Mass, Flanagan mau menggarisbawahi apa yang terjadi kalau manusia terlalu terobsesi dengan ilmu agama. Dan hasilnya memang sangat menyeramkan.

Sebelum Midnight Mass, saya tidak pernah ingat Flanagan membuat karakter yang sengaja dibuat untuk meneror penonton. Dalam miniseri ini, Anda akan berkenalan dengan karakter bernama Bev Keane, seorang karakter yang sangat relijius dan akan menggunakan semua kehaluannya untuk mendukung apa yang ia yakini. Bev Keane jauh lebih menyeramkan dan menggetarkan dari semua adegan supranatural dalam Midnight Mass karena kita semua tahu orang seperti Bev Keane ada di dunia ini. Dan mereka semua dihormati karena mereka berlindung dibalik jubah agama. Dan inilah yang membuat Midnight Mass sangat memikat sekaligus bikin merinding.

Secara presentasi, Midnight Mass terlihat jauh lebih cakep bahkan dibandingkan dengan kolaborasi Flanagan dan Netflix sebelumnya. Ini pencapaian yang sangat luar biasa mengingat mereka produksi miniseri ini ketika sedang pandemi. Visualnya sangat memikat dengan color grading yang sungguh mempesona. Gelap dan terang didesain sangat spesifik sesuai dengan kebutuhan. Dan musiknya sangat mendukung atmosfer Midnight Mass untuk menjadi lebih creepy.

Midnight Mass tidak akan mencapai ke level yang maksimal tanpa bantuan deretan cast yang luar biasa. Kate Siegel, Zach Gilford, Hamish Linklater, Rahul Kohli, Annabeth Gish, Kristin Lehman, Igby Rigney dan terutama Samantha Sloyan menampilkan penampilan yang begitu sangat memikat, Anda akan lupa mereka akting. Monolog-monolog panjang yang ditulis oleh Flanagan mungkin akan kedengaran too much bagi beberapa orang tapi di tangan mereka, dialog-dialog tersebut menjadi "ceramah" yang syahdu. Kalau Anda penggemar dua jilid The Haunting, Midnight Mass jelas tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Midnight Mass dapat disaksikan di Netflix.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)