Mindhunter: Perjalanan Mengerikan Menelusuri Pikiran Predator Berantai

Hary Susanto - detikHot
Kamis, 05 Nov 2020 06:50 WIB
Mindhunter
Foto: (dok.Netflix)
Jakarta -

Tidak setiap hari kamu menemukan serial thriller kriminal macam Mindhunter ini. Jika kebanyakan koleganya dengan genre serupa seperti lebih sibuk mengolah TKP, memecahkan kasus pembunuhan dari serial killer berbeda di setiap episodenya, plus, terkadang tak lupa tambahan bumbu asmara.

Namun bukan berarti benar-benar tak ada kasus yang diselidiki di Mindhunter, hanya saja ia tidak menjadikannya sebagai fokus utama. Mindhunter bisa disebut kisah yang intim, dalam dan personal dan yang menjadikannya lebih istimewa ada nama seorang David Fincher di sini yang selain menjadi produser ia juga menyutradarai 2 episode awal di dua musim dan dua episode akhir di musim pertama. Fincher sendiri seperti yang kita kenal adalah sutradara handal yang bertanggung jawab dari lahirnya film-film thriller kriminal besar dan hebat macam Se7en, Zodiac sampai Gone Girl.

Mindhunter, sesuai judulnya, ada pikiran dan sisi psikologis yang menjadi pusat gravitasi di hampir semua episode di dua musimnya yang mengambil set Amerika Serikat di tahun 1977 sampai 1981. Bersama duo detektif FBI dari divisi Behavioral Science, Holden Ford (Jonathan Groff) dan seniornya, Bill Tench (Holt McCallany) kita diajak masuk ke dalam pikiran para pembunuh-pembunuh berantai kelas "dewa", mencoba mempelajari tingkah laku mereka, mencoba mengerti mengapa mereka melakukan semua kejahatan sadis itu dan motif mereka melakukannya. FYI, para serial killer di sini dan kasus-kasus mengerikan mereka tidak hanya fiktif semata namun memang benar-benar ada di kehidupan nyata, sebut saja Edmund Kemper, Dennis Rader, Wayne Williams, Richard Speck sampai Charles Manson karena memang Mindhunter sendiri didasari dari buku non-fiksi, Mindhunter: Inside the FBI's Elite Serial Crime Unit

Pendekatan yang dilakukan Holden dan Tench jelas tak biasa bahkan bisa dibilang sedikit nekat dan nyeleneh. Banyak yang menyangsikan keberhasilan dari proyek ini termasuk bos mereka namun juga ada apresiasi dari salah satu karakter utamanya, Dr. Wendy Carr (Anna Torv) yang muncul belakangan dalam salah satu dialog bernada kagum "Psychopaths are convinced that there is nothing wrong with them. So these men are virtually impossible to study. Yet you have found a way to study them in near perfect laboratory conditions".

Dalam menjalankan misinya, Holden dan Tench bepergian lintas Amerika, di satu sisi mereka bertindak sebagai pengajar buat polisi setempat sembari keluar masuk penjara-penjara, bertemu para narapidana kriminal kelas kakap, duduk bersama dan ngobrol bareng dalam sebuah sesi wawancara intim yang tak jarang mencekam. Di sinilah cahaya Mindhunter bersinar terang. Setiap sesi interview yang dilakukan Holden dan Tench dengan para pembunuh berdarah dingin adalah momen terbaik Mindhunter, seperti sebuah pertunjukan bincang kematian yang tersaji dengan seni dan teknis tersendiri.

Setiap percakapan dibungkus dengan pilihan dialog-dialog panjang, cerdas, tajam dan mendetail, kita seperti sedang berada di tengah kelas mata kuliah kriminologi sekaligus psikologis tingkat lanjut yang banyak diisi oleh diksi dan istilah yang terasa asing di telinga, bahkan tak jarang kamu juga bisa merasakan aroma intimidasi, provokasi dan ancaman yang sedikit banyak mengingatkan pada momen ketika Clarice Starling menginterogasi Dr. Hannibal. Lecter di Silence of The Lambs.

Lalu selain narasi dan dialog yang kuat, Mindhunter punya casting yang sama solid nya. Tak banyak seperti series lain yang berhamburan karakter dan sub-plot. Mindhunter hanya mengandalkan tiga karakter utama saja namun setiap karakternya dihadirkan begitu memikat dengan pengembangan yang luar biasa dalam, rapi dan lengkap dengan segala konflik internal serta eksternal yang kemudian nantinya akan membentuk karakternya dalam mengambil keputusan penting di setiap episodenya.

Mindhunter adalah sebuah series kriminal yang luar biasa dengan presentasi jempolan yang meliputi narasi perkasa, dialog-dialog pintar, karakter-karakter solid dan atmosfer kelam yang menusuk, tapi seperti dua sisi mata uang, dengan begitu banyak dialog di kurang lebih 50 menitan di setiap episodenya yang bergerak pelan, Mindhunter jelas bukan untuk semua penonton, terlebih tidak buat mereka yang gak sabaran dan mereka yang memasang ekspektasi muluk-muluk akan gelaran crime thriller misteri kriminal konvensional dengan kasus, mayat, forensik dan proses mencari siapa pelaku kejahatan. Ini murni sebuah pertunjukan wawancara, perang psikologis dan deduksi kelas wahid. 2 season Mindhunter bisa ditonton di Netflix.



Simak Video "Kai Bicara soal Dukungan Baekhyun dan Taemin SHINee"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/doc)