DetikHot

tv-news

Soal Sinetron yang Dinilai Rendahkan Simbol Islam, KPI Panggil Stasiun TV

Selasa, 23 Apr 2013 18:21 WIB  ·   - detikHOT
Soal Sinetron yang Dinilai Rendahkan Simbol Islam, KPI Panggil Stasiun TV
Jakarta - Beberapa sinetron \\\'bernafaskan islam\\\' yang dikritik, mendapat perhatian dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sejumlah stasiun TV yang menayangkan sinetron-sinetron tersebut bersikap kooperatif dengan memenuhi panggilan KPI.

Pertemuan yang dipimpin langsung Wakil Ketua KPI Pusat, Ezki Suyanto dan Koordinator bidang Isi Siaran KPI Pusat, Nina Mutmainnah juga dihadiri oleh perwakilan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Lembaga Sensor Film (LSF). Dari hasil pertemuan pada 22 April lalu, ada kesepakatan akan memperbaiki tayangan sinetron penokohan simbol Islam yang dinilai tidak selayaknya.

Pembina Masyarakat TV Sehat Indonesia, Fahira Idris, mengapresiasi itikad baik SCTV dan RCTI, yang telah memperbaiki tayangan sinetron yang menempatkan Islam sebagai tersangka kejelekan. SCTV telah menghentikan tayangan sinetron \\\'Haji Medit.\\\' Sementara RCTI telah melakukan perubahan yang fundamental dalam skenario ke arah yang lebih baik untuk sinetron \\\'Tukang Bubur Naik Haji\\\'.

“Masyarakat Televisi Sehat Indonesia ingin memastikan tidak ada lagi unsur-unsur yang merendahkan agama apapun dalam setiap sinetron sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang dikeluarkan KPI, “ tutur Fahira Idris dalam keterangan persnya kepada detikHOT, Selasa (22\/4\/2013).

Menurut Fahira, seharusnya stasiun televisi harus punya tanggung jawab sosial yang besar dengan memberikan informasi atau program yang inspiratif, tanpa harus mendiskreditkan agama. Namun, dalam tayangan sinetron Tukang Bubur Naik Haji (RCTI), Islam KTP (RCTI) Haji Medit (SCTV), dan Ustad Fotocopi (SCTV) yang terjadi sebaliknya.

Tokoh-tokoh utama dalam sinetron-sinetron religi tersebut yang seharunya jadi panutan digambarkan berprilaku jauh dari ajaran Islam karena suka mencela, iri, dengki, dan kikir. “Menghibur pemirsa dengan kelucuan dan kekocakan boleh-boleh saja dan itu tidak dilarang. Tapi jangan mendiskreditkan agama, suku, atau ras sekalipun yang bisa membuat resah ummat Islam,\\\" tegasnya lagi.






(ich/ich)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed