ADVERTISEMENT

Spotlight

Persembahan Aditya Novali, Buat Lukisan Putar 3 Sisi

Tia Agnes Astuti - detikHot
Selasa, 30 Agu 2022 15:04 WIB
Seniman Aditya Novali
Aditya Novali menceritakan eksplorasinya soal roundtable painting di ajang Art Jakarta 2022. Foto: Tia Agnes/ detikcom
Jakarta -

Nama Aditya Novali telah melanglang buana ke berbagai negara. Karya-karya yang diciptakannya melampaui medium dan batas dalam ranah seni rupa.

Seniman asal Solo pada 17 November 1978 itu mengeksplorasi berbagai tema, medium, dalam setiap karya yang ditampilkan. Uniknya saat di ajang Art Jakarta 2022 yang sukses digelar akhir pekan lalu, ia memajang 3 karya di galeri ROH yang disebutnya sebagai 'roundtable painting'.

Kepada detikcom, Aditya Novali menuturkan serial roundtable painting ini sudah dimulai sejak 2010 sepulangnya dari sekolah di Belanda. "Saya saat itu mau mencari skena seni baru dan ikut lomba lukis di Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA) jadi pembuka kloter pertama," tutur Aditya di Jakarta Convention Center (JCC), kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Saat itu, Aditya mengaku sudah menggunakan material kanvas yang diputar dan plexiglass di seri lain ke dalam lukisannya. Dia tak ingin membuat lukisan dengan medium seperti biasanya.

"Aku berusaha mikir dengan medium yang berbeda. Until now, I'm still talking at the same thing, di dunia yang berusaha gimana citra dibentuk, aku berjuang gimana membuat itu," terang Aditya.

Dalam serial 'roundtable painting' itu, seniman yang pernah mengenyam pendidikan Arsitektur di Universitas Parahyangan, Bandung, itu mencontohkan dalam lukisan ada 3 bagian atau sisi kanvas yang diputar. Di bagian atas lukisan bangunan simbol kota, peta kota Jakarta, dan pergerakan masyarakat dari tahun 1960 sampai sekarang.

Seniman Aditya NovaliSeniman Aditya Novali saat ditemui detikcom di ajang Art Jakarta 2022. Foto: Tia Agnes/ detikcom

Aditya Novali mencontohkan bagaimana cara memutar ketiga kanvas itu yang seakan menjadi sebuah kesatuan kepada detikcom.

"Kenapa ada peta, monumen, ini awalnya sebenarnya lukisan tentang sejarah yang terjadi di Jakarta, akhirnya transenden ke Indonesia. Dengan roundtable painting, ketemu konteksnya menyembunyikan sejarah itu tidak bisa," kata Adit.

"Karena (sejarah) akan tetap ada. Jadi tidak bisa disembunyikan," sambungnya lagi.

(Baca halaman berikutnya)



Simak Video "Keren! 3 Seniman Video Mapping Indonesia Lolos Tokyo Light Festival"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT