Spotlight

Muhammad Sabiq Menang Kompetisi NFT, Apa Tren Ini Tetap Bertahan?

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 18 Jan 2022 17:32 WIB
Muhammad Sabiq Hibatulbaqi, pemenang pertama NFT Art Prized Moments 2021
Muhammad Sabiq Hibatulbaqi memenangkan NFT Art Prized Moments 2021. Foto: NFT Art Prized Moments 2021/ Istimewa
Jakarta -

Sebelum Indonesia heboh dengan foto selfie Ghozali Everyday, sudah banyak seniman Tanah Air yang berbondong-bondong menjual karyanya di berbagai platform digital. NFT menjadi salah satu cara untuk beralih ke digital ketika ruang pamer terbatas di tengah situasi pandemi.

Desember 2021, Art Moments Jakarta Online yang merupakan art fair tahunan menyelenggarakan kompetisi seni NFT bernama NFT Art Prized Moments. Dari ratusan karya yang masuk ke tim dewan juri, keluarlah karya video stiker berjalan menjadi jawara.

Tak ayal, karya seni ciptaan seniman asal Bandung itu mengalahkan lainnya. Kepada detikcom, Muhammad Sabiq Habitulbaqi menceritakan sebelum memenangkan kompetisi NFT, dia sudah membuat karya video pada 2020.

"Waktu itu di Rubanah Jakarta, karyanya sebenarnya karya seni instalasi nge-print foto. Ceritanya tentang sisifus yang dibuat dengan imej berbeda," terang Sabiq.

Dia mencontohkan foto wisuda ayahnya dan dirinya dipajang di pameran seni tersebut. Sabiq pun menyandingkannya.

Muhammad Sabiq HibatulbaqiMuhammad Sabiq Hibatulbaqi Foto: Rafaela Chandra/ Istimewa

"Apakah nasibku bakalan sama dengan ayah nggak ya, sederhana dan curhat banget ya. Tapi main di video yang konsisten itu tahun 2021. Dapat undangan residensi indie juga dari Goethe-Institut (Pusat Kebudayaan Jerman), disuruh bikin karya dalam satu bulan," jelasnya.

"Gimana karya itu bisa fit di Instagram, ya sudah bikin video saja. Nah itu awal-awal saya bikin video, sebelumnya sebagai pekerjaan sekarang jadi karya," sambung Sabiq.

Setelah video ciptaannya yang berjudul Melancholy of Doubt and Fear itu memenangkan kompetisi NFT, Sabiq apakah tertarik membuat karya NFT lagi?

"Saya mah buat senang-senang saja. Maksudnya pilihan orang beda-beda yah, ada yang untuk datang dan jual sebagai main job, kalau saya belum tahu. Saya pakainya Texos dan masih buat having fun saja," katanya lagi.

[Gambas:Instagram]



Sekarang ini, diakui Sabiq, memang tren NFT sedang gila-gilanya di Indonesia sejak akhir tahun lalu. Ghozali Everyday menjadi salah satu penyebabnya.

Menurut Sabiq, ada satu hal yang membuatnya penasaran selama ini, apakah buying power cukup. Produsen banyak, tapi apakah konsumen sebanyak itu juga?

"Aku penasaran bukan dalam artian skeptis ya. Maksudku jadi pertanyaan banyak orang juga, bertahan seberapa lama, di luar NFT sudah biasa dipakai metode fund and dump. Waktu Ghozali kemarin, kenapa jadi langka karena primary yang dijual berapa kali lipat dari harga asli, aslinya kan cuma Rp 60 ribu di awal tapi sudah bisa sampai 0,08 NTH atau puluhan juta," terang Sabiq.

Keuntungan mereka yang menjual karya di platform NFT mana pun adalah sistem royalti. Layaknya buku yang terjual, royalti menjadi nilai utama yang menguntungkan bagi si pemilik karya.

"NFT ini kan ekonomi alternatif ya. Ada saja yang memutuskan menjadi kreator NFT full time, banyak juga karya yang laku di pasar. Tapi saya merasa karya saya nggak cukup hits atau laku cepat. Karya saya yang santai-santai saja yah," katanya terkekeh.



Simak Video "Cegah Pembajakan NFT, OpenSea Luncurkan Tameng Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)