ADVERTISEMENT

Spotlight

Siasat Mereka yang Bertahan di Panggung saat Pandemi

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 21 Des 2021 16:40 WIB
Teater Koma Pentaskan Lakon Bertajuk Savitri
Teater Koma merayakan hari jadi yang ke-44 tahun ini. Foto: Teater Koma/ Image Dynamics
Jakarta -

Pandemi COVID-19 berdampak pada banyak sektor industri kreatif, salah satunya seni pertunjukan. Layaknya konser musik yang mendapat larangan mengumpulkan banyak orang dalam satu ruang tertutup, panggung seni memiliki nasib yang sama.

Sepanjang 2021, Indonesia mengalami dua gelombang COVID-19 besar-besaran. Pertama yang terjadi di akhir 2020 sampai awal tahun 2021 dan berikutnya saat pertengahan tahun antara bulan Juni sampai Juli.

Di periode tersebut, pemerintah menerapkan aturan ketat termasuk istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Kali ini, redaksi detikcom bakal membahas catatan-catatan akhir tahun seni pertunjukan termasuk siasat dari mereka para pelaku seni panggung yang bertahan dengan agar tetap berkarya.

Di awal 2021, Teater Koma makin eksis menunjukkan taringnya di usia yang tak lagi muda. Berada di umur 44 tahun, Teater Koma merayakan ulang tahun dengan Festival 44 tahun secara virtual selama empat bulan berturut-turut.

Tak tanggung-tanggung, ada belasan pertunjukan yang disiapkan untuk tayang di YouTube Teater Koma dan platform media sosial yang mereka siapkan.

IndonesiaKaya juga menghadirkan sejumlah seni pertunjukan agar penikmatnya tak bosan berada di dalam rumah. Melalui program #NontonTeaterDiRumahAja, mereka menghidupkan lagi kisah klasik Siti Nurbaya menjadi musikal.

Pentas yang tak kalah menarik menarik adalah sajian musikal horor berjudul Ibu. Tim di balik layar memadukan antara kolaborasi film dan teater dan disajikan kepada penikmat seni layaknya sebuah film horor.

Musikal Horor IbuMusikal Horor Ibu Foto: Indonesia Kaya/ Istimewa

Yayasan Bali Purnati juga bertahan dengan menggagas program kebudayaan bertemakan Jiwa Gambuh di tengah pandemi. Digelar di Desa Batuan, Bali, mereka mencoba untuk menemukan potensi seni budaya di desa tersebut, salah satunya adalah drama tari Gambuh.

Sepanjang tahun, Titimangsa Foundation mencoba bertahan dengan membuat beragam program dan pertunjukan. Salah satu yang mutakhir adalah monolog Di Tepi Sejarah dan Mereka yang Menunggu di Banda Naira.

Produser sekaligus pendiri Titimangsa Foundation, Happy Salma menuturkan sengaja memilih cerita dan para tokoh yang berada di pinggir sejarah bangsa dan belum tercatat dalam buku-buku sejarah.

Pertunjukan Mereka yang Menunggu di Banda NairaPertunjukan Mereka yang Menunggu di Banda Naira Foto: pepe/ Image Dynamics

Tahun ini, dua kelompok seni balet Tanah Air merayakan hari jadi spesial mereka. Ada EKI Dance Company yang ultah ke-25 tahun dan hadir melalui film dokumenter berjudul Manggarai dan Marlupi Dance Company yang ultah ke-65 akhir November lalu.

Mereka yang bertahan tak punya lagi alasan untuk bermalas-malasan dan berdiam diri saat pandemi melanda. Mau tak mau, mereka tetap berkreativitas, berkarya, dan memproduksi seni pertunjukan dengan perpaduan antara online dan offline. Para seniman juga mampu melampaui batas kreativitas itu ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Bagaimana cerita dan siasat mereka yang bertahan di tengah pandemi? Simak artikel berikutnya.



Simak Video "Pengalaman Pertama Julie Estelle Main Teater Live"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT