Spotlight

Proses Kreatif di Balik The Devil All The Time

Devy Octaviany - detikHot
Minggu, 27 Sep 2020 12:00 WIB
The Devil All the Time
Proses di balik film The Devil All The Time yang tayang di Netflix Foto: Dok. Netflix
Jakarta -

The Devil All The Time menjadi karya terbaru Antonio Campos, sang sutradara. Selama ini, dia dikenal pernah menyutradarai Afterschool (2008), Simon Killer (2012), dan Christine (2016).

Ada proses panjang di balik pembuatan film The Devil All The Time yang bisa ditonton di Netflix.

"Judulnya berasal dari baris di dalam novel yang berbunyi: 'Sejauh yang dia ingat, sepertinya bahwa ayahnya telah melawan Iblis sepanjang waktu'. Ini berbicara tentang perjuangan melawan kejahatan dan kekerasan yang menyelimuti dan membusuk di dalam karakter ini," ungkap Antonio Campos.

Sang sutradara mengatakan bahwa tantangan awal dalam membentuk naskah adalah bagaimana merangkum keseluruhan cerita dari ratusan lembar novel aslinya.

"Kami sebisa mungkin membuat kisah dari tiap karakter dapat mewakilkan cerita seperti di novelnya. Sebenarnya ini adalah kisah ayah dan anak di mana sang ayah pernah melakukan perbuatan keji kemudian hal tersebut juga dilakukan sang anak," urai Campos.

The Devil All The TimeThe Devil All The Time Foto: (dok.imdb.)

Ia menambahkan bahwa dia bangga membawa penonton ke era di mana cerita ini berlangsung di masa lalu secara visual. "Begitu Anda melihat bingkai film ini, Anda merasa seperti berada di waktu yang berbeda, "katanya.

"Hal ini dilakukan dengan brilian dari Lol Crawley, desain produksi brilian oleh Craig Lathrop, dan desain kostum yang menakjubkan dari Emma Potter, yang menjadi perekat yang membuat kisah dan alur film ini tercipta," ungkap Campos.

Lol Crawley dikenal sebagai sinematografer dari deretan film dans erial di antaranya Mandela: Long Walk to Freedom (2013) juga Black Mirror - Crocodile (2017).

The Devil All the TimeThe Devil All the Time Foto: Dok. Netflix

Crawley sendiri menerapkan teknik khusus untuk THe Devil All The Time yang ia sebut serupa dengan gaya pengambilan gambar pada film-film bertema sejarah.

"Aku menyesuaikannya seperti aku melakukan pengambilan gambar pada film-film bertema periodik," tutur sang sinematografer.

Diungkapkan Antonio Campos, ia membawa kisah The Devil All The Time tak hanya sekadar menampilkan deretan kekerasan dan kejahatan. Campos menyebut, secara keseluruhan, filmnya juga punya pesan moral yang dapat diterima oleh banyak orang.

"Aku ingin penonton bisa merasakan meskipun kita mewarisi semua kekurangan dari orang tua kita, atau semua orang yang datang sebelumnya, kita juga diwarisi kebaikan. Aku ingin penonton merasakan harapan akan hal itu kemungkinan untuk melakukan hal lebih baik dalam setiap generasi," tukasnya.



Simak Video "Seru! Acara Pixy Steal the Spotlight Medan Dipadati Pengunjung"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/tia)