Summer breeze bercerita tentang persahabatan sepasang anak kembar dengan seorang gadis. Ares (Mischa Chandrawinata), Orion (Marcell Chandrawinata), dan Reina (Chelsea Olivia) bersahabat dari kecil. Pada umur 8 tahun mereka menuliskan cita-citanya masing-masing di selembar kertas dan menguburnya di sebuah taman tempat mereka sering bermain. Setelah itu Reina pergi meneruskan sekolah ke luar negeri.
12 tahun kemudian Reina kembali di hari ulang tahun Ares dan Orion. Bagi Orion itu hari yang membahagiakan, namun tidak bagi Ares. Ares menganggap kebahagiaan itu hanya untuk Orion. Ares merasa seperti itu karena ia selalu dipersalahkan dan dipandang sebelah mata oleh ayahnya (Mathias Muchus).
Meski kembar, antara Ares dengan Orion tidak akur dan mempunyai sifat berbeda. Ares cenderung asyik dengan dunianya sendiri, sedangkan Orion tipe lelaki yang membuka diri.
Sebagai sahabat, Reina terus mencoba mendekatkan meraka berdua. Bukannya si kembar bertambah dekat, mereka malah makin menjauh karena masing-masing merasa cemburu. Reina pun segera menyadari kalau di antara mereka terjadi cinta segitiga. Konflik semakin tegang karena di antara mereka bertiga merasa takut untuk mengakui.
Untuk mengakhiri konflik ini, mana yang Reina pilih? Ares yang pemarah dan sinis, atau Orion yang ramah dan sempurna di mata kedua orangtua dan teman-temannya.
Film garapan Allan Lunardi ini mengadaptasi novel berjudul 'Summer Breeze' karya Orizuka. Seluruh setting tempat, illustrasi musik, cerita, sampai pemilihan pemain seolah mengaambarkan suasana negeri Sakura.
Entah karena mengadaptasi cerita dari novel, karakter para pemain dalam 'Summer Breeze' jadi sedikit datar. Kejutan-kejutan yang dimunculkan selama film berjalan tak mampu membuat penonton hilang dari rasa bosan.
Adegan kesedihan dan marah-marah dominan dalam film berdurasi kurang lebih 90 menit ini. Satu pesan yang didapat dari 'Summer Breeze', jangan terlambat ucapkan cinta.
(ebi/eny)











































