Review Dog: Film Wajib Para Babu Anabul

Candra Aditya - detikHot
Sabtu, 23 Apr 2022 17:53 WIB
Tidak bisa dipungkiri bahwa Dog adalah sebuah melodrama yang mengharu biru meski aura film ini sangat macho dan penuh dengan testosteron.
(Foto: dok. MGM/FilmNation Entertainment) Tidak bisa dipungkiri bahwa Dog adalah sebuah melodrama yang mengharu biru meski aura film ini sangat macho dan penuh dengan testosteron.
Jakarta -

Dengan judul segamblang Dog, film yang menjadi debut penyutradaraan Channing Tatum ini (disutradarai bersama Reid Carolin yang juga menulis skripnya) menjanjikan semua hal yang Anda perlukan untuk meraih tisu di dalam kegelapan bioskop. Ceritanya humanis, sederhana, ngena dan tidak bertele-tele. Cerita yang ada di dalamnya cukup efektif untuk membuat semua penonton terlena, bahkan bagi Anda yang bukan penggemar anjing.

Di film ini Channing Tatum berperan sebagai Jackson Briggs, seorang mantan ranger yang sebenarnya menderita post-traumatic stress disorder tapi dia masih denial soal hal tersebut. Dia masih berpikir bahwa dia masih bisa berguna untuk bangsa dan karena itulah dia ngotot untuk ditugaskan kembali ke Pakistan. Sejauh ini usahanya gagal karena dokumen yang dia perlukan mengindikasikan bahwa dia terlalu rapuh untuk kembali ke medan perang.

Kemudian Briggs mendapatkan informasi soal kematian temannya. Di acara kumpul-kumpul untuk mengenang temannya yang sudah tiada pun Briggs masih ngotot untuk "nego" supaya dia ditugaskan kembali. Usahanya kembali menemui jalan buntu. Sampai akhirnya ada hal yang bisa dia lakukan untuk mengubah itu semua.

Tugasnya terdengar sederhana tapi menantang: Briggs harus bisa mengantar seekor anjing militer bernama Lulu untuk menghadiri pemakaman temannya di Arizona. Kalau Briggs bisa melaksanakan tugas ini dengan berhasil, maka dia akan mendapatkan surat rekomendasi untuk berangkat tugas. Yang Briggs baru tahu adalah seperti dirinya, Lulu adalah seekor anjing yang rapuh dan "bermasalah" karena semua hal yang dia lihat di medan perang. Dua orang yang terluka ini pun akhirnya terjebak dalam perjalanan yang akhirnya mengubah nasib satu sama lain.

Salah satu hal yang paling mengejutkan dari Dog adalah betapa lucunya film ini meskipun dari awal film ini tidak pernah bersembunyi dari kenyataan bahwa ini adalah drama yang mengharukan. Sebagai sebuah road film, tidak mengherankan apabila Carolin sebagai penulis skrip mencoba mengejutkan penonton dengan hal-hal yang tidak terduga. Tapi dalam Dog, Carolin benar-benar memasukkan kejadian-kejadian yang benar-benar out of the box sehingga efeknya cukup dramatis.

Bagian Lulu mengganggu rezeki emas Briggs untuk bisa bermesraan dengan dua perempuan memang sudah kocak duluan. Tapi ada momen ketika Briggs dan Lulu menemukan perkebunan ganja dan akhirnya bertemu dengan pemilik kebun, Dog menunjukkan keliarannya dengan mengubah tone film dengan cepat. Kalau saja pembuatnya mau menjadi film serius, Dog bisa dengan cepat berubah menjadi film yang berdarah-darah. Itu sebabnya ketika adegan tersebut berubah menjadi komedi dan penonton bertemu dengan pasangan suami istri yang kocak (Kevin Nash sebagai Gus dan Jane Adams sebagai Tamara benar-benar menghidupkan suasana), filmnya menjadi benar-benar lucu.

Sebagai seorang aktor, kita mungkin tidak perlu pembuktian lagi dari seorang Channing Tatum. Setelah kemarin menghibur kita semua lewat rom-com The Lost City bersama Sandra Bullock, Dog juga lagi-lagi menunjukkan bahwa ia adalah bintang yang lebih dari sekadar wajah ganteng dan badan bagus. Tatum luar biasa kharismatik dan charming. Ia bisa membuat sebuah adegan bernyanyi meskipun lawannya adalah anabul yang tidak bisa berbicara.

Sebagai seorang sutradara, Tatum bersama Carolin menunjukkan bahwa mereka tahu bagaimana mengaduk-ngaduk emosi penonton. Tidak hanya mereka berhasil meramu formula road movie dengan baik sehingga progress hubungan antara Briggs dan Lulu terasa nyata dan hangat tapi mereka juga sukses mengaduk-ngaduk emosi saya. Film belum berakhir dan saya sudah bercucuran air mata. Ketika akhirnya layar menggelap, saya hanya bisa mencari tisu untuk membersihkan ingus.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Dog adalah sebuah melodrama yang mengharu biru. Aura film ini sangat macho, penuh dengan testosteron. Film ini mungkin meromantisasi kesetiaan tapi ia tidak pernah malu-malu untuk menggambarkan apa efek samping dari kesetiaan tersebut (dalam hal ini adalah jadi ranger). Dengan durasi yang bersahabat (101 menit), Dog adalah tontonan wajib para "babu anabul". Saya jamin, begitu film selesai, Anda akan semakin mencintai binatang peliharaan Anda.

Dog dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)