Review The Protege: Film Aksi Renyah Meski Tanpa Gizi

ADVERTISEMENT

Review The Protege: Film Aksi Renyah Meski Tanpa Gizi

Candra Aditya - detikHot
Rabu, 09 Mar 2022 20:42 WIB
The Protege (2021)
(Foto: dok. Lionsgate Films) The Protégé tidak akan menjadi seasyik ini kalau Martin Campbell tidak bersenang-senang saat menyutradarai film ini. Simak review-nya di sini.
Jakarta -

Maggie Q dalam The Protégé berperan sebagai Anna dalam film terbaru garapan Martin Campbell (GoldenEye, Casino Royale). Anna adalah seorang korban pembunuhan sekaligus penyekapan yang diselamatkan oleh Moody (Samuel L. Jackson) yang akhirnya kemudian dilatih menjadi mesin pembunuh yang tidak pernah gagal melaksanakan misinya. So far, so good.

Anna dan Moody percaya bahwa mereka bekerja untuk menghabisi orang-orang yang jahat. Atau setidaknya itu yang mereka pikir. Anna menyembunyikan identitasnya dengan menjual buku-buku klasik sebagai kamuflase. Dan ketika si penyelamatnya alias mentornya Moody tiba-tiba tewas dibunuh, Anna pun mencari segala macam cara untuk membalas dendam.

Perjalanan Anna membalas dendam akhirnya sampai pada sosok bernama Michael Rembrandt (Michael Keaton), seorang pembunuh yang juga sama-sama canggih yang anehnya memiliki chemistry yang lucu dengannya. Tarik ulur ini menjadi semakin rumit ketika rahasia-rahasia lama terungkap, trik demi trik bermunculan dan kejutan menyapa Anna.

Dari awal The Protégé tayang, film ini tidak berbasa-basi untuk mengenalkan dirinya bahwa ia adalah sebuah film aksi yang patut untuk disimak. Pembukaannya menjanjikan meskipun sangat sederhana. Meskipun skripnya tidak berusaha lebih keras untuk memberi daging atau substansi yang lebih terhadap tiga karakter utamanya (skripnya ditulis oleh Richard Wenk), tapi setidaknya kejutan-kejutannya lumayan memberikan bobot dibandingkan film-film sejenis. Anna, Moody, dan Rembrandt didefinisikan dengan apa yang mereka lakukan. Dan karena mereka digambarkan sebagai pembunuh yang luar biasa canggih, maka adegan sesederhana makan malam bersama bisa berubah menjadi "ajang adu pintar".

Tapi bahkan dengan kekurangan itu, The Protégé tetap bisa dinikmati. Yang agak mengurangi kenikmatan film ini justru muncul di bagian akhir ketika (plot twist!) si pembuat filmnya memberi tahu bagaimana cara penjahat sebenarnya menggiring tokoh utama untuk melakukan apa yang dia mau. Keputusan ini bukannya membuat The Protégé menjadi cerdas tapi malah menjadi blunder meskipun tidak fatal.

Tapi untungnya The Protégé dimainkan oleh aktor-aktor yang berkomitmen dengan peran mereka sehingga film ini jauh lebih menghibur dari yang saya kira. Samuel L. Jackson seperti biasa selalu bisa diandalkan untuk membuat semua adegan menjadi lebih menyenangkan. Ia salah satu aktor yang diberkahi kemampuan untuk bisa menjual semua adegan yang dia mainkan. Dan Michael Keaton, seperti biasanya, bisa "mencuri" adegan dengan gampang tanpa berusaha. Chemistry-nya dengan Maggie Q dibangun dengan sangat baik sehingga adegan-adegan mereka menjadi hidup.

Kalau Anda menonton Mission Impossible III dan Die Hard 4.0, Anda pasti sudah tahu kemampuan Maggie Q dalam melakukan adegan-adegan aksi. Dalam film ini, sekali lagi ia menunjukkan kemampuannya yang sangat baik dalam melakukan adegan-adegan akrobat yang kompleks. Yang keren dari Maggie Q adalah dia bisa melakukan semua adegan berantem ini dengan gaya yang begitu santai seolah-olah semua orang bisa menjadi pembunuh bayaran.

The Protégé tidak akan menjadi seasyik ini kalau Martin Campbell tidak bersenang-senang saat menyutradarai film ini. Adegan-adegan aksi yang ada dalam film ini dibuat dengan nilai artistik yang cukup dan di-edit dengan lumayan tangkas (kudos untuk editor Angela M. Catanzaro) sehingga ketika adegan-adegan tersebut muncul, saya bisa melupakan plotnya yang bisa dibilang generik. Bahasa visual Campbell sangat jernih dan taktis sehingga adegan-adegan aksinya tampil dengan cukup meyakinkan. The Protégé mungkin bukan film terbaik Maggie Q, Samuel L. Jackson, Michael Keaton atau bahkan Campbell. Tapi sebagai sebuah hiburan, ia cukup menyenangkan untuk disimak.

The Protégé dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT