Review The 355: Aksi Lima Artis Hollywood Selamatkan Dunia

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 14 Jan 2022 17:51 WIB
The 355
(Foto: dok.imdb.) The 355 adalah sebuah film yang saking standarnya, Anda akan lupa ceritanya begitu lampu bioskop dinyalakan.
Jakarta -

Saat syuting X-Men: Dark Phoenix, Jessica Chastain berbicara dengan sutradara dan penulis Simon Kinberg tentang keinginannya untuk membuat sebuah franchise film aksi yang dibintangi oleh para perempuan. Ini bukan ide yang jelek. Dan Jessica Chastian benar soal hipotesanya bahwa film aksi terlalu didominasi laki-laki. Hampir tidak ada franchise film aksi dengan bintang utama perempuan, apalagi memiliki ensemble cast perempuan. Serial James Bond, Jason Bourne, Ethan Hunt, bahkan John Wick memasang perempuan hanya berfungsi sebagai love interest atau gula-gula (meskipun serial Mission:Impossible akhir-akhir menyadari ini dan menggunakan Rebecca Ferguson dengan sebaik-baiknya).

Maka pada Cannes Film Festival tahun 2018, Jessica Chastain menggandeng empat artis kenamaan dunia lainnya (Marion Cotillard yang akhirnya diganti oleh Diane Kruger, Penelope Cruz, Lupita Nyong'o dan Fan Bingbing) untuk menjual The 355, sebuah film aksi dengan ensemble cast aktor perempuan Hollywood papan atas. Dengan tambahan Sebastian Stan dan Edgar Ramirez meramaikan film ini, di atas kertas The 355 mempunyai amunisi yang baik untuk menjadi calon franchise film action yang berbobot.

Sayangnya semangat Chastain untuk membuat film action yang bagus hanya sebatas hashtag girl power. Skrip yang ditulis oleh Theresa Rebeck dan Simon Kinberg tidak memberikan hal yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Semua yang terjadi dalam The 355 adalah semua hal yang pernah ada di film-film action kebanyakan. Parahnya lagi, Simon Kinberg sebagai sutradara, mengerjakan film ini dengan kemalasan tingkat tinggi.

Film dimulai dengan (seperti biasa) pengenalan sebuah alat canggih, satu-satunya di dunia, yang bisa mengontrol internet satu dunia. Dia bisa menghentikan pesawat yang ada di udara, mematikan listrik satu kota dan lain sebagainya. Tentu saja alat ini akhirnya menjadi rebutan semua kriminal satu dunia ketika alat tersebut hilang secara misterius.

Mace (Jessica Chastain) seorang agen CIA pergi ke Paris bersama rekannya Nick (Sebastian Stan) untuk mendapatkan alat ini. Kalau Anda menebak bahwa mereka ada sub-plot romansa, Anda benar. Aksi Mace dan Nick menjadi rumit ketika agen dari Jerman bernama Marie (Diane Kruger) mengganggu aksi mereka.

Mace akhirnya butuh bantuan Khadijah (Lupita Nyong'o), seorang agen intelejen dari Inggris yang sangat mahir menggunakan teknologi. Di tengah aksi mereka, Mace dan Khadijah bertemu dengan Graciela (Penelope Cruz), seorang psychologist dari agensi Kolombia yang sedang dikirim bosnya untuk mengurusi salah satu agennya, Luis (Edgar Ramirez). Tidak butuh lama untuk Mace, Marie, Khadijah dan Graciela bekerja sama demi menghentikan perang dunia ketiga.

Sebenarnya tidak ada yang baru dalam film action. Semua jenis skenario sudah pernah kita lihat sebelumnya. Yang berbeda adalah cara penyajiannya. Itulah sebabnya film seperti The Raid dan sekuelnya dipuji-puji oleh semua penikmat film action di seluruh dunia karena pembuatnya berhasil memberikan sesuatu yang berbeda. Hal tersebut tidak bisa saya sampaikan tentang The 355 karena Kinberg sangat malas-malasan.

Dengan cerita yang sangat standar, saya kira dia bisa memberikan sesuatu yang asyik selain aktor-aktor kelas dunia bersatu dalam satu frame untuk menghentikan kejahatan. Ternyata tidak. Semua adegan aksinya hambar, tidak ada rasa. Ketegangan yang saya harapkan dari film sejenis hampir tidak pernah ada. Kinberg bersama Rebeck mencoba memberikan sesuatu yang unik dengan memberikan "dunia lain" terhadap karakter-karakter perempuan ini. Bahwa mereka mempunyai kehidupan lain selain pekerjaan ini tapi hal tersebut tidak cukup. Satu-satunya yang membuat film ini menarik adalah ketika karakter-karakternya duduk bersama membahas rencana mereka. Ketika rencana itu dilaksanakan, kesenangan itu langsung sirna karena ternyata eksekusinya tidak semenarik itu.

Semua pemain film ini bermain di bawah rata-rata. Agak menyedihkan karena di atas kertas melihat aktor-aktor seperti Jessica Chastain, Penelope Cruz, Diane Kruger, Lupita Nyong'o dan Fan Bingbing berantem sepertinya asyik. Realitanya tidak seperti itu. Di-edit dengan setengah hati, The 355 adalah film aksi paling membosankan yang bisa Anda tonton di bioskop saat ini. Dengan ending yang sangat menggelikan, saya ragu The 355 akan melahirkan banyak interest untuk menjadikan ini awal dari sebuah franchise. The 355 adalah sebuah film yang saking standarnya, Anda akan lupa ceritanya begitu lampu bioskop dinyalakan.

The 355 dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)