Spider-Man: No Way Home, Sensasinya Bikin Merinding

ADVERTISEMENT

Hot Review

Spider-Man: No Way Home, Sensasinya Bikin Merinding

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 16 Des 2021 08:28 WIB
Potongan adegan dari trailer Spider-Man: No Way Home.
Review Spider-man: No Way Home Foto: dok. Sony Pictures
Jakarta -

Far From Home, sekuel pertama Spider-Man versi Tom Holland tidak sesegar film pertamanya, Homecoming. Meskipun sudah membahas soal kematian Tony Stark dan memunculkan penjahat yang lumayan berkesan (Mysterio alias Jake Gyllenhaal), Far From Home tidak memberikan kesan yang mendalam. Pembuatnya sepertinya sadar akan hal ini dan membuat Spider-Man: No Way Home menjadi entry Spider-Man yang paling seru, paling ambisius dan paling emosional.

Spoiler Alert!

Susah sekali membicarakan soal Spider-Man: No Way Home tanpa spoiler. Tapi cerita sederhananya adalah begini: dunia sangat berubah sejak ending Far From Home. Setelah Mysterio membocorkan rahasia asli Spider-Man kepada dunia, semesta Peter Parker (Tom Holland) langsung berubah. Ia bersama MJ (Zendaya) langsung diserbu oleh warga-warga kepo. Tidak hanya MJ, hidup Tante May (Marisa Tomei) yang tadinya relatif adem ayem juga menjadi heboh. Sampai-sampai mereka semua harus pindah ke apartemen Happy (Jon Favreau) untuk berlindung dari media.

Potongan adegan dari trailer Spider-Man: No Way Home.Potongan adegan dari trailer Spider-Man: No Way Home. Foto: dok. Sony Pictures

Selain semua orang berlomba-lomba menjadi teman Parker dan kemana pun dia pergi dia selalu dicemooh, aksi Mysterio membuat Parker, MJ dan Ned (Jacob Batalon) tidak diterima di kampus idaman mereka. Kecewa dan merasa bertanggung jawab atas kekacauan ini, Parker memutuskan untuk bertemu dengan Dr. Strange (Benedict Cumberbatch) dan memintanya untuk membuat semua orang melupakan bahwa dia adalah Spider-Man. Ralat, semua orang kecuali orang-orang terdekatnya. Aksinya ini akhirnya mengundang masalah baru yang justru membuat hidup Parker semakin rumit.

Yang menarik dari Spider-Man: No Way Home adalah cara Jon Watts, yang kembali untuk ketiga kalinya menyutradarai seri ini versi Tom Holland, mempertahankan tone filmnya yang jenaka. Dibandingkan dengan dua versi Spider-Man sebelumnya, versi yang ini memang jauh terasa lebih modern dan easy going. Kemampuan Jon Watts untuk tetap membuat mood yang upbeat inilah yang akhirnya menjadikan Spider-Man: No Way Home menjadi enak untuk ditonton.

Secara plot, skrip yang ditulis oleh Chris McKenna dan Erik Sommers memang tidak menawarkan sesuatu yang sensasional. Tidak ada kejutan yang out of the box. Tapi bukan berarti Spider-Man: No Way Home menjadi garing. Karena mereka berdua mempunyai senjata lain yang sama efektifnya: nostalgia. Mereka menggunakan rasa melankolia atas nostalgia ini dengan begitu efektif sehingga Spider-Man: No Way Home terasa jauh lebih dramatis dibandingkan dengan film-film sebelumnya.

Bukan spoiler kalau saya bilang beberapa penjahat dari serial Spider-Man yang lain bermunculan disini karena trailer dan poster sudah menunjukkan bahwa sosok seperti Doctor Octopus (Alfred Molina), Green Goblin (Willem Dafoe) serta Sandman (Thimas Haden Church) akan hadir di film ini. Tapi tetap saja, ketika mereka muncul di frame yang sama dengan Tom Holland, sensasinya lumayan membuat merinding. Dan saya bahkan belum membahas kemunculan kejutan-kejutan lain yang sudah pasti akan membuat penggemar serial Spider-Man bahagia.

Potongan adegan dari trailer Spider-Man: No Way Home.Potongan adegan dari trailer Spider-Man: No Way Home. Foto: dok. Sony Pictures

Yang paling menarik dari kemunculan karakter-karakter antagonis dari semesta Spider-Man yang lain adalah bagaimana cara Jon Watts memperlakukan mereka di dunia yang baru ini. Kalau di versi lama Doctor Octopus dan Green Goblin terkesan sangat serius, di film ini mereka mendapatkan kesempatan untuk ikutan ngelucu. Hasilnya? Sama sekali tidak mengecewakan. Humor-humornya disampaikan dengan baik dan hampir semuanya berhasil.

Secara teknis, presentasi audio visual Spider-Man: No Way Home sudah tidak bisa diragukan lagi meskipun ada beberapa CGI yang terlihat fake. Meskipun begitu, dengan petualangan yang semakin akhir semakin heboh, penonton sudah dipastikan akan kesenangan menonton film ini. Klimaksnya sangat totalitas dan pendewasaan diri yang dialami oleh Peter Parker dibuat dengan sangat baik, siapapun akan ikut tenggelam ke dalam kisahnya.

Seperti halnya Far From Home, akhir Spider-Man: No Way Home lagi-lagi mengantarkan Peter Parker ke suasana baru yang membuat saya penasaran dengan apa yang akan ditawarkan lagi oleh seri ini. Dengan mid credit scene yang sangat membuat penasaran dan kejutan kejutan yang menyegarkan di sepanjang film, Spider-Man: No Way Home adalah blockbuster wajib tonton tahun ini.

Spider-Man: No Way Home dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "1 Halaman Komik Spider-Man 1984 Laku Jutaan Dolar"
[Gambas:Video 20detik]
(nu2/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT