ADVERTISEMENT

Venom: Let There Be Carnage, Aksi Venom yang Ternyata Kocak

Candra Aditya - detikHot
Minggu, 21 Nov 2021 09:02 WIB
Venom: Let There Be Carnage
Foto: Dok. YouTube/Sony Pictures
Jakarta -

Walaupun Venom (spin-off pertama universe Spider-Man yang dimiliki oleh Sony) bukan film yang baik tetapi ketika ia dirilis pada 2018 film ini mendapatkan sambutan yang cukup meriah dari penonton. Dengan pendapatan sebesar 850 juta dollar lebih, jelas Venom adalah sebuah franchise yang harus diperjuangkan. Berita bagusnya adalah pembuatnya sepertinya sadar apa yang membuat Venom begitu menghibur sehingga sekuelnya, Venom: Let There Be Carnage, menjadi sebuah film yang sangat menghibur. Jauh sekali jika dibandingkan dengan film pertamanya.

Ceritanya sendiri sebenarnya sangat sederhana. Setelah kejadian di film pertamanya, Eddie Brock (Tom Hardy) terpaksa harus hidup berdua dengan Venom yang ternyata sangat jago ngelawak. Kerjaannya marah-marah terus karena Brock tidak membiarkan Venom untuk makan manusia. Ternyata otak manusia memang menjadi asupan nutrisi utama bagi Venom. Brock hanya bisa mengganti otak manusia dengan ayam dan cokelat.

Kemudian suatu hari Cletus Kasady (Woody Harrelson, yang karakternya juga sudah dibahas sedikit di ending film pertamanya) meminta Brock datang untuk menceritakan kisahnya. Brock sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa Kasady memintanya datang. Kasady sendiri mengaku bahwa dia merasa "relate" dengan Brock. Tapi mungkin dia punya misi lain. Seperti memberikan info rahasia kepada pacarnya yang masih ditahan, Franches Barrison alias Shriek (Naomie Harris, seperti memainkan ulang peran uniknya dalam serial Pirates of the Carribean).

Di tengah patah hatinya dengan Anne (Michelle Williams) yang ternyata sekarang sudah mau menikah, Brock mendatangi Kasady yang sebentar lagi mau dieksekusi. Dalam pertemuan terakhirnya, Kasady menggigit Brock yang tentu saja membuatnya mendapatkan sari-sari Venom. Maka lahirlah Carnage, "anak" dari Venom yang bersiap untuk menghancurkan siapa saja yang ada di depannya.

Venom: Let There Be Carnage jujur saja membuat saya terkejut karena pengalaman saya menonton film pertamanya sama sekali tidak menghibur. Kalau pun saya enjoy, itu dikarenakan beberapa bagian saja. Film pertamanya, menurut saya masih terjebak dengan konsep film superhero yang kita semua kenal. Belum lagi trailer dan teaser-nya yang mengatakan seolah-olah ini adalah film untuk dewasa dan ternyata ketika saya menonton tone-nya berantakan. Bagaimana Anda menceritakan tentang alien yang hobi makan orang tapi rating-nya sengaja diturunkan menjadi film untuk remaja?

Andy Serkis sebagai sutradara dan Kelly Marcel sebagai penulis skrip sepertinya tahu benar apa yang akan mereka buat dengan Venom: Let There Be Carnage. Mereka tahu bahwa Venom dengan Eddie Brock layaknya Dr. Jekyll dan Mr. Hyde. Manusia dan alien yang terpaksa tinggal di satu tubuh yang sama jelas merupakan sumber komedi yang baik. Dan terima kasih sekali mereka fokus dengan aspek komedinya sehingga sepanjang film diputar, saya cekikikan tiada henti. Melihat Brock yang sudah helpless dan harus meladeni Venom yang energinya seperti bocah kebanyakan gula adalah salah satu hiburan tersendiri.

Plot utamanya sendiri seperti standar film superhero yang lain. Carnage lumayan meyakinkan sebagai penjahat meskipun kita tahu bahwa Venom akan mengalahkannya dengan mudah. Tapi yang justru membuat fokus saya tetap di layar sebenarnya adalah dinamik hubungan antara Venom dan Brock. Di pertengahan film, mereka berpisah. Dan seperti layaknya film persahabatan yang baik, perpisahan antara Venom dan Brock menghasilkan drama dan komedi yang lumayan menarik untuk disimak.

Tom Hardy dalam penampilannya yang kedua sebagai Brock/Venom jauh lebih nyaman di Venom: Let There Be Carnage. Mungkin karena kali ini dia terlibat secara kreatif (Tom Hardy ikut men-develop cerita bersama Marcel). Kali ini dia menunjukkan ke penonton bahwa dia bisa menjadi sangat lucu kalau dia mau. Jokes dalam Venom: Let There Be Carnage sangat melimpah dan Tom Hardy menjualnya dengan penuh semangat. Lihat adegan Brock ketika bertemu dengan Anne untuk pertama kalinya. Hardy bisa melucu sekaligus memperlihatkan semburat kesedihan dalam matanya.

Dengan battle yang lumayan memuaskan (kali ini secara visual lebih enak dilihat daripada kekacauan di film pertamanya yang gelap banget), Venom: Let There Be Carnage ternyata berhasil melakukan yang selama ini dianggap mustahil. Ia memberikan sesuatu yang baru yang akhirnya membuat Venom menjadi seri yang patut untuk ditunggu. Apalagi dengan mid-credit scene-nya yang bikin penasaran, aksi Venom dan Brock menjadi sebuah petualangan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Venom: Let There Be Carnage dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(dar/dar)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT