Review Army of Thieves: Awal Mula Menjadi Perampok

Candra Aditya - detikHot
Rabu, 03 Nov 2021 11:00 WIB
ARMY OF THIEVES (L to R) Matthias Schweighöfer as LUDWIG DIETER in ARMY OF THIEVES. Photo Credit: Stanislav Honzik/Netflix © 2021
(Foto: Stanislav Honzik/Photo Credit: Stanislav Honzik) Army of Thieves tidak bisa jadi hiburan yang membuat kita benar-benar larut dalam kisahnya. Dia hanya berakhir jadi tontonan yang lumayan hambar.
Jakarta -

Musim panas ini Netflix merilis blockbuster mahal buatan Zack Snyder berjudul Army of the Dead. Dengan premis "mari merampok kasino Las Vegas di tengah kepungan zombie", Army of the Dead tentu saja langsung mencuri perhatian. Tidak hanya ini menjadi film pertama Snyder setelah "pulang kampung" dari semesta DC tapi juga ini adalah kembalinya Snyder ke genre yang melambungkan namanya. Remake Dawn of the Dead miliknya yang dirilis pada tahun 2004 kerap kali disebut-sebut sebagai film zombie terbaik.

Meskipun hasilnya tidak sesuai ekspektasi (filmnya ternyata agak membosankan meskipun premisnya sudah luar biasa menarik), Army of the Dead ternyata dianggap sebagai salah satu intellectual property bagi Netflix yang waktu itu belum mengguncang dunia melalui Squid Game (kalau ada satu intellectual property dari Netflix yang layak mendapatkan universe ya dia adalah si Squid Game) karena Netflix rela mengeluarkan pundi-pundi dolar untuk memproduksi prekuelnya yang diberi tajuk Army of Thieves.

Dengan karakter Ludwig Dieter (Matthias Schweighöfer) sebagai karakternya utamanya, di atas kertas Army of Thieves sangat make sense. Dari semua karakter yang ada di Army of the Dead, Ludwig Dieter yang paling mencuri perhatian. Energinya yang manik, kelakuannya yang aneh dan celetukan-celetukannya yang tidak bisa diprediksi membuat Army of the Dead mempunyai stok komedi yang lumayan. Tapi ternyata ketika dia tampil solo bersama tim baru, Army of Thieves tidak se-spesial yang saya bayangkan.

Kisah film ini sangat simple. Sebelum dia menjadi Ludwig Dieter si ahli pembuka brankas, Ludwig adalah seorang Sebastian Schlencht-Wohnert (ya, namanya menjadi becandaan di film ini) yang merupakan teller bank dengan hari-hari yang membosankan. Obsesinya dengan brankas ternyata sudah dari lama. Ia bahkan punya kanal YouTube yang membahas soal ini. Yang tentu saja tidak ada penontonnya.

Kemudian suatu hari ia mendapatkan komentar misterius. Ia disuruh datang ke sebuah gedung (lengkap dengan password untuk menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang berbahaya dan misterius!) dan ternyata begitu ia sampai disana, Sebastian disuruh ikut kompetisi membuka brankas. Sebastian yang kelihatan sangat "culun" tentu saja menjadi highlight karena ia akhirnya memenangkan kompetisi ini.

Tapi bukan hadiah yang akhirnya membuat hidup Sebastian berubah 180 derajat. Yang membuat hidupnya langsung berubah drastis adalah ketika seorang perempuan cantik bernama Gwendoline Starr (Nathalie Emmanuel, diculik dari serial Game of Thrones dan serial Fast and Furious) mengaku bahwa dialah yang mengundang Sebastian untuk ikut kompetisi buka brankas tersebut. Sebelum Sebastian shock, Gwendoline kemudian menawarkan penawaran yang ia tak bisa tolak: kesempatan untuk membuka empat brankas legendaris buatan Hans Wagner.

Ditulis oleh Shay Hatten (dengan cerita dari Snyder dan Hatten), Army of Thieves sebenarnya tidak mempunyai yang spesial dibandingkan dengan film-film heist yang lain. Ia mirip dengan kisah-kisah sejenis. Kita melihat Sebastian yang hidupnya membosankan kemudian berubah total. Mungkin yang membuatnya ia unik adalah karakter Sebastian memang asyik untuk diikuti. Oh dan fakta bahwa ada background soal zombie apocalypse di depan mata.

Army of Thieves seperti halnya film macam trilogi Ocean's atau bahkan The Italian Job, diisi dengan ensemble cast dengan masing-masing pekerjaan yang spesifik. Di film ini selain Sebastian dan Gwendoline ada Korina (Ruby O. Fee) yang bertugas sebagai ahli perkomputeran dan internet. Kemudian ada Brad Cage (Stuart Martin) yang mendapatkan tugas untuk menjadi tukang gebuk. Kemudian yang terakhir ada Rolph (Guz Khan) yang katanya adalah sopir paling jago sedunia. Bagian yang sangat basic ini sebenarnya bukan bagian yang paling mengecewakan dalam Army of Thieves. Bagian yang paling mengecewakan dalam film ini ternyata justru adegan perampokannya.

Salah satu bagian paling menyenangkan dari heist movie adalah menonton orang-orang yang sangat ahli dalam pekerjaan merampoknya menghadapi masalah yang tidak terduga ketika mereka sedang bekerja. "Seberapa sulit pekerjaan ini" selalu menjadi pesona tersendiri dalam genre ini. Itulah sebabnya kita semua nonton serial Ocean's karena kita selalu kepo dengan pertanyaan "bagaimana bisa mencuri uang sebanyak itu dari kasino Las Vegas tanpa ketahuan" atau "bagaimana caranya mencuri perhiasan di acara Met Gala tanpa ketahuan". Di Army of Thieves sayangnya semua adegan perampokan terasa mudah. Hampir tidak ada halangan yang merintangi mereka kecuali petugas-petugas yang menghalangi pekerjaan mereka. Tidak ada kejutan. Tidak ada yang membuat saya dag dig dug.

Adegan-adegan perampokan inilah yang akhirnya menjadikan Army of Thieves menjadi tontonan yang lumayan hambar. Padahal ia lumayan punya potensi untuk menjadikan (calon) franchise Army of the Dead menjadi serial yang lumayan ditunggu di Netflix. Sebagai tontonan ringan kalau Anda bingung mau menonton apa, film ini memang bisa dijadikan alternatif. Tapi sebagai sebuah hiburan yang membuat kita benar-benar larut dalam kisahnya, Army of Thieves ternyata tidak bisa melakukan itu. Meskipun ada beberapa zombie di belakangnya.

Army of Thieves dapat disaksikan di Netflix.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)