My Name: Menjalani Dua Kehidupan Demi Balas Dendam

Candra Aditya - detikHot
Senin, 18 Okt 2021 11:45 WIB
My Name
Foto: (dok. Netflix)
Jakarta -

'Neraka tidak apa-apanya dibandingkan seorang perempuan yang sedang marah' adalah sebuah pepatah yang sangat cocok untuk menggambarkan My Name, drama Korea terbaru produksi Netflix yang masih kesenangan menikmati populernya Squid Game. Disutradarai oleh Kim Jin-Min yang tahun lalu sempat menyutradarai Extracurricular (salah satu produk Netflix original dari Korea yang juga sempat dibicarakan), delapan episode My Name mengantar penonton ke dalam kehidupan Yoon Ji-Woo (Han So-Hee yang penuh dengan drama.

My Name sendiri dibuka dengan unik. Kita bertemu dengan Ji-woo beberapa tahun lalu ketika dia masih SMA. Dia nampaknya tinggal sendirian di apartemennya karena tidak ada sosok lain yang mengelilinginya.

Ketika dia pulang sekolah, dua detektif mengikutinya dan menanyainya macam-macam soal ayahnya. Dari sini kita tahu bahwa bapaknya Ji-woo adalah seorang buron. Ketika Ji-woo sampai di sekolah dan melihat mejanya (yang penuh dengan coretan yang tidak baik), barulah kita tahu kenapa Ji-woo diteror dengan sebegitunya: bapaknya katanya adalah seorang gangster yang jahat dan sedang dicari-cari semua orang.

My NameMy Name Foto: (dok. Netflix)

Ji-woo sendiri sebenarnya perangainya santai. Dia jelas bingung kenapa dia mendapatkan perlakuan seperti ini. Apalagi setelah gurunya memintanya pindah sekolah. Padahal dia tidak melakukan apa-apa.

Justru murid-murid lain yang menganggunya tanpa henti. Tapi dia santai. Semuanya masih bisa ia hadapi. Sampai akhirnya malamnya ketika dia berulang tahun dia menyaksikan ayahnya dibunuh oleh seseorang yang misterius.

Sosok ibu tidak pernah hadir dalam hidupnya (setidaknya kita tidak pernah dikasih liat soal ibunya). Hubungannya dengan ayahnya meskipun kompleks tapi sangat fungsional. Mereka saling curhat dan berkomunikasi. Jadi ketika dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ayahnya dibunuh di depannya Ji-woo tidak punya pilihan lain selain balas dendam kepada si pembunuh.

Dan langkah pertama yang ia lakukan adalah bergabung dengan gangster ayahnya. Di sanalah ia bertemu dengan Choi Mu-Jin (Park Hee-Soon), sahabat ayahnya yang sekarang menjadi kepala organisasi, dan ia pun dididik untuk menjadi seorang petarung.

Tidak bisa dipungkiri bahwa My Name langsung mencuri perhatian dari sepuluh menit pertama. Menyaksikan Ji-woo menghajar para bully di sekolahnya adalah sebuah pemandangan yang sangat menyenangkan. Kita langsung diajak berkenalan dengan Ji-woo tanpa banyak basa-basi. Dari sini saya langsung merasa dekat dengan karakternya. Jadi ketika Ji-woo akhirnya harus terpaksa belajar bela diri untuk balas dendam, saya sudah terlibat dengan apapun yang akan dia lakukan.

Ditulis oleh Kim Ba-Da, My Name adalah sebuah drama yang sangat emosional. Secara cerita dia memang tidak menawarkan hal yang baru. Anda mungkin sudah biasa menonton plot balas dendam semacam ini dengan berbagai variasi. Tapi yang tetap membuat My Name asyik untuk ditonton adalah caranya bercerita dan kejutan-kejutan yang ada di dalamnya. Temponya berjalan dengan sangat cepat sehingga menyaksikan delapan episode dalam satu hari pun tidak akan terasa karena semua dramanya seru.

Dan kejutan-kejutan yang ada di dalamnya meskipun tidak menggelegar tapi cukup membuat deg-degan. Hampir semua motivasi karakternya abu-abu. Menaruh penonton di kepala Ji-woo adalah sebuah keputusan yang baik karena akhirnya saya sebagai penonton sama sekali tidak tahu mana karakter yang sebenarnya baik atau yang buruk. Kesan pertama bisa menjadi perangkap karena karakter yang kita kira baik tahu-tahu mencoba untuk memperkosa kita.

My NameMy Name Foto: (dok. Netflix)

Yang juga mengesankan dalam My Name adalah permainan aktornya. Ketika My Name dirilis, Han So-Hee pasti sudah bukan nama atau wajah yang asing. Aksinya dalam drama korea fenomenal The World of the Married membuat saya membencinya setengah mati karena dia memainkan karakter 'pelakor' dengan sangat baik. Kemudian kemarin dia juga membuat semua orang marah-marah dengan semua kegoblokan yang ia lakukan dalam Nevertheless.

Dalam My Name, So-Hee berhasil tampil sebagai seorang gadis yang dijalankan oleh rasa dendam. Emosinya jalan terus. Chemistry-nya dengan lawan mainnya (terutama dengan Park Hae-Soon yang memerankan si bos gangster) terjaga dengan sangat baik sehingga ketika klimaksnya hadir, My Name menjadi sangat emosional.

Tapi mungkin bagian paling mengesankan dalam My Name adalah bagaimana So-Hee memamerkan kemampuan fisiknya. My Name jauh lebih berdarah-darah dan jauh lebih action dari apapun yang So-Hee pernah lakukan selama ini. Koreografi My Name terlihat kompleks dan So-Hee bisa melakukan semuanya dengan effortless. Seperti halnya John Wick di film-filmnya, Ji-woo bisa menghadapi semua penjahatnya sendirian dan dia bisa melakukannya tanp berkeringat dan tetap terlihat cantik setiap saat.

Satu-satunya hal dari My Name yang mungkin membuat saya agak sedikit kecewa adalah fakta bahwa serial ini terasa familiar. Sejauh ini produk Netflix original dari Korea selalu memberikan sesuatu yang berbeda. Move To Heaven, Not So Familiar, DP dan tentu saja Squid Game berhasil mempersembahkan sesuatu yang fresh. Meskipun begitu My Name tetap wajib untuk ditonton bagi Anda penggemar So-Hee dan terutama pecinta cerita kriminal. Yang satu ini mungkin akan membuat Anda meneteskan air mata di akhir cerita.

My Name dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "K-Talk Ep 96: Review Drakor 'My Name' Han So Hee"
[Gambas:Video 20detik]
(dal/dal)