Dune (IMAX): Menafsirkan Mimpi-mimpi Misterius

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 14 Okt 2021 13:38 WIB
Dune harusnya bisa melakukan lebih dari sekedar perkenalan. Apalagi kita belum tahu pasti apakah perkenalan ini berlanjut atau berhenti sampai di sini saja.
(Foto: dok. WarnerMedia) Dune harusnya bisa melakukan lebih dari sekedar perkenalan. Apalagi kita belum tahu pasti apakah perkenalan ini berlanjut atau berhenti sampai di sini saja.
Jakarta -

Dune, film terbaru dari sutradara jempolan Denis Villeneuve, adalah sebuah sci-fi epik yang dikelilingi dengan ekspektasi yang tinggi. Ini adalah adaptasi dari saga karya Frank Herbert yang dilabeli "karya yang tidak bisa difilmkan".

Beberapa sutradara terkenal mencoba untuk mengadaptasinya dan gagal (David Lynch mengadaptasinya pada tahun 1984 tapi bahkan dia tidak mau membahas soal film tersebut). Tidak berhenti di sana, film ini dibuka dengan tulisan "Dune: Part One" yang artinya begitu end credits bergulir, film ini masih belum selesai.

Dan ini lumayan meresahkan.

Hal itu tentu saja lantaran sekuelnya belum dibuat. Dan biasanya Hollywood baru akan memberi lampu hijau produksi mahal kalau film tersebut berhasil meraup pundi-pundi dolar yang menggetarkan. Jadi, apakah ekspektasi yang tinggi tersebut tercapai?

Dune walaupun kesannya rumit dan melelahkan (bagian pertama ini menghabiskan 155 menit) sebenarnya kisahnya sangat sederhana. Jauh di masa depan, kita bertemu dengan keluarga baik bernama Keluarga Atreides. Mereka mendapatkan perintah dari Emperor untuk memimpin sebuah planet bernama Planet Arrakis. Seberapa penting Planet Arrakis ini? Sangat penting. Ia memiliki gurun yang dipenuhi dengan sesuatu yang disebut "rempah" yang sangat penting untuk perjalanan lintas angkasa.

Planet Arrakis sebelumnya dikuasai oleh Keluarga Harkonnen. Dan mereka adalah orang-orang yang jahat. Anda bisa melihat dari dandanannya yang gelap dan makeup-nya yang pucat. Tentu saja Keluarga Harkonnen tidak rela Planet Arrakis dikuasai oleh Atreides. Jadi pastinya akan ada upaya dari Harkonnen untuk merebut kembali planet yang sangat berharga ini.

Dan di tengah-tengah latar itu, Paul Atreides (Timothée Chalamet, menghabiskan dua jam lebih untuk diam dan menatap layar dengan ekspresi yang sangat serius) mendapatkan mimpi-mimpi yang rasanya sangat nyata. Dia melihat teman dekatnya meninggal dunia. Dan terutama dia melihat seorang gadis bermata biru yang kerap memanggil namanya. Apa maksud mimpi-mimpi ini? Apakah mereka sebuah ramalan yang akan menjadi nyata?

Dune (atau lebih tepatnya Dune: Part One) adalah sebuah film yang raksasa. Anda bisa mencium bau ambisiusnya dari layar. Disaksikan di layar IMAX, scope yang mau ditampilkan Dune terasa sekali masifnya. Dan saya tidak hanya bicara soal presentasi audio visualnya, tapi terutama tentang ceritanya.

Ditulis oleh tiga orang (Jon Spaihts, Denis Villeneuve, dan Eric Roth), Dune terasa seperti sebuah pemberontakan dari kebanyakan blockbuster Hollywood. Kalau Anda terbiasa menonton blockbuster (terutama kalau blockbuster tersebut bergenre superhero), maka Anda pasti biasa dengan plot yang sangat mudah dimengerti dan tempo yang cepat. Dune sama sekali tidak seperti itu.

Dune sangat menikmati privilege waktu-nya (155 menit dihabiskan untuk bagian pertamanya saja) untuk world building. Film ini baru memberikan "keseruan" yang menghebohkan setelah satu jam lebih. Bahkan jika dibandingkan dengan film Villeneuve sebelumnya, Blade Runner 2049 (yang juga merupakan blockbuster yang juga mencoba untuk tidak seperti blockbuster kebanyakan), maka Dune terasa jauh lebih bersabar dalam bercerita.

Saking hebohnya film ini menjelaskan semua hal, penonton hanya bertemu dengan fragmen-fragmen para karakternya secara sekilas. Selain Paul dan Jessica (Rebecca Ferguson yang mendapatkan daging yang lebih tebal) hampir tidak ada karakter lain yang punya misi atau karakterisasi yang jelas. Sisanya berfungsi untuk menjalankan plot agar Paul dan Jessica berjalan ke plot berikutnya sehingga susah sekali untuk peduli dengan karakter-karakter lain. Sebagai sebuah film yang bercerita tentang "orang yang terpilih", Dune memang kurang agresif karena Paul adalah karakter yang lumayan pasif. Dia baru menunjukkan aksinya di setengah jam terakhir (sekali lagi, ini gara-gara filmnya dipecah menjadi dua bagian).

DuneAdegan dalam film Dune. Foto: dok. Warner Bros.

Dune terasa sangat asyik kalau dilihat dari atas. Sebagai sebuah blockbuster, film ini dari awal menunjukkan kekuatannya di atas layar. Presentasi teknisnya sama sekali tidak main-main. Desain produksinya sungguh menawan. Setiap lokasi terasa mewah dan entah kenapa... terasa mistis. Ada sesuatu yang sakral rasanya. Visual Geg Fraser tidak hanya menawan tapi juga menggetarkan. Menyaksikan Dune di layar IMAX adalah satu-satunya cara untuk mengagumi setiap jengkal frame-nya yang ditata dengan begitu sempurna. Tidak ada satu pun shot yang meleset. Dan semua itu kemudian dilengkapi dengan musik Hans Zimmer yang menggelegar. Dentuman drum, suara nyanyian orang benar-benar membuat saya merinding. Perang dalam Dune adalah perang hidup dan mati.

Tapi meskipun pencapaian artistik dan teknisnya menawan, begitu film berakhir (lengkap dengan bisikan Chani yang diperankan oleh Zendaya bahwa ini hanya permulaan) saya merasa Dune seperti melewatkan sesuatu. Dengan durasi 155 menit dan tone yang sangat serius (mungkin hanya ada 2 atau 3 jokes sepanjang film, dan itu pun bukan jokes yang 'haha'), Dune harusnya bisa melakukan lebih dari sekedar sebuah perkenalan. Terutama jika kita belum tahu pasti apakah perkenalan ini berlanjut atau berhenti sampai di sini saja.

Dune dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)