The Chair: Komedi Kocak Tentang Orang-Orang Pintar

Candra Aditya - detikHot
Minggu, 22 Agu 2021 16:03 WIB
Miniseri The Chair
Foto: Netflix/ Istimewa
Jakarta -

Sandra Oh adalah seorang aktor yang luar biasa. Kalau Anda penggemar serial Grey's Anatomy atau Killing Eve, Anda pasti sudah tahu bahwa Oh tidak hanya mempunyai bakat yang luar biasa tapi kharisma yang bersinar terang benderang. Salah satu kemampuan terhebat Oh sebagai aktor adalah kemampuannya untuk menyeimbangkan drama dan komedi tanpa membuatnya terasa artifisial. Semuanya terasa nyata di tangannya. Mau itu tone-nya sedang serius, menegangkan atau kocak, Oh bisa melakukannya semua seolah tanpa usaha. Kemampuannya yang luar biasa itulah yang menjadi senjata The Chair, sebuah miniseri komedi karya Amanda Peet dan Anni Julia Wyman yang baru saja rilis di Netflix minggu ini.

Oh berperan sebagai Ji-Yoon Kim, seorang profesor yang baru saja mendapatkan jabatan sebagai the chair di departemen English di Pembroke University. Ini adalah sebuah posisi yang prestisius dan menjadi bersejarah karena Ji-Yoon adalah perempuan pertama yang menempati posisi ini. Bahkan sebelum drama meledak, Ji-Yoon sudah mendapatkan tekanan dari dekan Paul Larson (David Morse) untuk memotong tiga profesor tertua yang bayarannya paling tinggi tapi kelasnya paling sepi peminat. Selain itu, Ji-Yoon sendiri sedang fokus untuk mengangkat profesor muda bernama Yaz McKay (Nana Mensah) untuk mendapatkan jabatan di kampusnya.

Oh dekat dengan seorang profesor yang baru saja menjadi duda bernama Bill Dobson (Jay Duplass). Bill Dobson tidak hanya populer karena dia seorang penulis terkenal tapi ia juga terkenal asyik di kelas. Dobson sangat disegani di kampus. Tapi akhir-akhir ini hidupnya agak berantakan, lengkap dengan hobinya mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan, karena dia masih berduka. Ketika dia sedang bercanda di kelas dan memeragakan salut Hitler, hiruk pikuk pun dimulai. Semua mahasiswa protes dengan aksi Dobson dan memintanya untuk bertanggungjawab.

Sampai disini Ji-Yoon masih merasa bisa meng-handle semuanya. Tapi kemudian namanya terseret ke dalam drama ini ketika dia tidak sadar memberikan saran yang tidak baik ke asisten Dobson. Belum lagi keinginan sekolah untuk meminta seorang selebriti menjadi dosen sekolah yang membuat rencana Ji-Yoon berantakan. Tinggal menunggu waktu sebelum akhirnya semuanya berantakan.

Sinopsis diatas kedengerannya sangat kompleks tapi percayalah, begitu Anda menyelesaikan episode pertama The Chair, Anda akan ingin menyimak kisahnya dengan akhir. Hanya dengan enam episode The Chair berhasll membicarakan tentang sexism, ageism, cancel culture, woke culture tanpa kehilangan beat sama sekali.

Editingnya sangat padat karena meskipun durasinya terbatas (hanya 30 menit per episodenya), The Chair tetap bisa memberikan jatah kepada semua supporting cast-nya tanpa kehilangan momentum sama sekali.

Peet dan Wyman berhasil menggambarkan dunia Ji-Yoon dengan sangat jelas sehingga apapun yang dia rasakan, apapun yang dia hadapi terasa sangat dekat bagi saya meskipun saya tidak tahu menahu tentang dunia akademia. The Chair terasa sangat spesifik ketika ia mengajak penonton untuk terjun ke drama-drama akademik yang kompleks (politik kampus) sampai receh (ruangan salah satu dosen yang dipindah ke bawah gym). Tapi ia juga terasa sangat dekat ketika ia menggambarkan keluarga Ji-Yoon yang anehnya justru sangat spesifik karena ini adalah kisah tentang seorang Korean-American.

Salah satu highlight yang menyenangkan (dan menghangatkan) dalam The Chair adalah bagaimana pembuat miniseri ini menggambarkan hubungan Ji-Yoon dengan anaknya, Ju Ju (Everly Carganilla) dan ayahnya, Habi (Ji Lee) yang menolak untuk berbicara dalam bahasa inggris meskipun dia bisa ngomong bahasa inggris. The Chair tidak hanya mengajak penonton untuk melihat isi rumah Ji-Yoon tapi juga mengenalkan kita dengan budaya keluarga korea yang unik seperti di episode 5 yang menurut saya adalah episode terbaik miniseri ini. Episode tersebut tidak hanya dramatis tapi juga kocak (lengkap dengan kehadiran seorang aktor yang memainkan versi fiksi dari dirinya sendiri) dan ditutup dengan sebuah ending yang sangat mengharukan.

Yang juga membuat The Chair begitu ringan dan enak dikunyah meskipun topik yang ia bawa cukup berat adalah tone romantic comedy-nya yang kental. Dan rumus dalam romantic comedy adalah chemistry yang kuat. The Chair menemukan pasangan terbaik Oh dalam Jay Duplass. Duplass yang juga merupakan seorang filmmaker tahu benar bagaimana cara memerankan Dobson sehingga meskipun ia melakukan kesalahan, saya tetap mendukungnya. Ketika Oh dan Duplass berada dalam satu adegan, The Chair menjadi 100 kali lebih menggemaskan. Lihat bagaimana cara Duplass menatap Oh sepanjang adegan. Anda akan tahu kenapa The Chair bahkan jauh lebih romantis dari semua jilid The Kissing Booth.

Kalau ada kekurangan yang bisa saya sebut soal The Chair mungkin adalah ia telah membuat saya membayangkan dunia akademik jauh lebih menarik dari yang saya kira. Dan ini adalah sebuah kesalahan yang berat karena kita semua tahu, tidak semua dosen semenggemaskan Oh dan Duplss. Jika Anda mencari tontonan gemas yang tidak kopong, The Chair adalah jawabannya. Siapkan cemilan dan mungkin pulpen, dan siap-siaplah tertawa sekaligus belajar bersama profesor Ji-Yoon.

The Chair dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "Fantastis! 'Squid Game' Sumbang Cuan Rp 12,5 T untuk Netflix"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/tia)