Thunder Force: Superhero yang Tidak Lucu atau Mengesankan

Chandra Aditya - detikHot
Minggu, 11 Apr 2021 19:02 WIB
Thunder Force
Foto: Thunder Force
Jakarta -

Saya tidak mau menulis kalimat ini tapi sejak Marvel mengukuhkan diri sebagai kekuatan sinema yang tak bisa ditandingi, superhero telah menjadi genre sendiri. Semua orang tentu saja tertarik dengan pundi-pundi dollar yang telah dihasilkan oleh Marvel. Dan itulah sebabnya Warner Bros. memaksa untuk membuat DCEU dengan tergesa-gesa. Itulah sebabnya hampir semua line up serial yang ada di stasiun CW adalah superhero.

Karena superhero telah menjadi genre yang sangat familiar, para kreator berusaha sekeras-kerasnya untuk menampilkan sesuatu yang fresh. Ide pahlawan super melawan kejahatan tidak lagi bisa diterima sebagai tontonan yang fresh. Penonton mengharapkan kreasi yang baru. Bahkan Marvel sendiri paham akan hal ini. Itulah kenapa WandaVision dipersembahkan dengan cara yang unik. Itulah sebabnya kenapa Guardians of the Galaxy lebih mirip sitkom yang karakternya kebetulan sedang menyelamatkan dunia. Itulah sebabnya kenapa Logan adalah film superhero berkedok western. Itulah kenapa serial The Boys amat diminati. Ia berhasil meramu genre superhero yang sebelumnya terlihat sangat formulaic menjadi satir yang menggetarkan.

Masuklah Ben Falcone dan Melissa McCarthy. Pasangan suami istri ini adalah salah satu tokoh komedi Amerika yang sangat diperhitungkan. Terutama McCarthy yang selalu bisa diandalkan untuk mengocok perut. McCarthy tidak hanya mempunyai comedic timing yang sangat bagus tapi ia juga bisa membuat karakternya yang se-over-the-top apapun terlihat manusiawi. Ini adalah sebuah keahlian yang luar biasa. Dan itulah sebabnya Thunder Force, kolaborasi mereka yang terbaru, terasa sangat menjanjikan.

Dalam Thunder Force, kita berkenalan dengan Lydia (Melissa McCarthy) dan Emily (Octavia Spencer). Keduanya adalah teman lama yang sekarang sudah tidak lagi berteman. Bagian ini tidak begitu penting karena kita tahu bahwa mereka akan segera bermaaf-maafan dan berkolaborasi. Bagian yang krusial dari Thunder Force adalah ada kejadian langka 40 tahun yang menyebabkan orang-orang yang punya kecenderungan sociopath untuk mendapatkan kemampuan super. Kenapa baru sekarang Emily mencoba untuk membuat orang lain yang normal mendapatkan kemampuan super juga adalah sebuah pertanyaan yang kerap muncul di kepala saya. Dan pertanyaan-pertanyaan semacam ini kerap muncul sepanjang film.

Tentu saja suatu malam Lydia melakukan kesalahan yang membuatnya mendapatkan serum dari hasil penelitian Emily yang belum teruji. Kedua orang ini akhirnya menjadi superhero dan berusaha menyelamatkan warga dari penjahat-penjahat yang berkeliaran.

Premis Thunder Force sebenarnya sangat menarik jika diolah dengan tepat. Dua orang yang tidak pantas menjadi superhero harus berhadapan dengan orang-orang jahat jelas bukanlah premis yang unik. Tapi tetap saja di tangan yang tepat dan dimainkan dengan aktor-aktor yang keren pasti akan menjadi sesuatu yang menarik. Dan Melissa McCarthy bersama Octavia Spencer di atas kertas adalah duo yang cocok untuk memainkan ini.

Tapi ternyata hasil akhirnya tidak sesuai dengan ekspektasi. Thunder Force adalah sebuah film yang sangat tidak lucu sebagai sebuah komedi, tidak seru sebagai film superhero. Film ini gagal bahkan untuk membuat saya terhibur. Skrip yang ditulis oleh Ben Falcone lebih banyak memberikan pertanyaan yang tidak terjawab daripada aksi-aksi yang menegangkan. Okelah, mungkin tidak fair menilai bagian "superhero" dari Thunder Force karena Falcone adalah spesialis komedi. Tapi bahkan komedi dalam Thunder Force tidak bisa dibilang bagus. Banyak miss daripada hit-nya. Jokes-jokesnya usang. Satu-satunya jokes yang menarik adalah The Crab, seorang penjahat/love interest McCarthy yang diperankan oleh Jason Bateman yang mempunyai tangan kepiting. Tapi itu pun segera menguap dengan cepat.

Selain skripnya yang buruk, permainan McCarthy dan Spencer pun juga kurang garam. Keduanya seperti tidak berada di ruangan yang sama. Chemistry-nya non-existent. Aneh sekali padahal tidak hanya keduanya aktor yang sangat berbakat (Spencer meraih Oscar dan McCarthy adalah nominator Oscar), tapi juga mempunyai comedic timing yang sangat bagus.

Menyaksikan Thunder Force membuat saya menjadi semakin menghargai film-film Marvel yang bergenre komedi. Dua jilid Guardians of the Galaxy dan terutama Thor: Ragnarok membuktikan bahwa membuat superhero yang seru, lengkap dengan action sequences yang menakjubkan tapi tetap kocak adalah pekerjaan yang tidak gampang. Thunder Force adalah thesis dari itu. Jika Anda mau menonton superhero yang kocak, film ini tidak menyediakan itu.

Thunder Force dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(dar/dar)