Hot Review

Chaos Walking: Suara-Suara yang Berbahaya

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 09 Apr 2021 09:37 WIB
Chaos Walking
Daisy Ridley dan Tom Holland dalam Chaos Walking . Foto: (dok.Lionsgate)
Jakarta -

Diadaptasi dari novel berjudul The Knife of Never Letting Go (buku pertama dari serial Chaos Walking), film terbaru Doug Liman ini membawa penonton sebuah planet baru (bernama New World) pada tahun 2257. New World hampir sama dengan Bumi. Ada air, ada hutan, ada oksigen.

Tidak ada manusia yang memakai baju futuristik. Yang berbeda adalah semua laki-laki yang ada dalam planet ini tidak bisa menyembunyikan pikiran mereka. Di sekitar kepala mereka muncul kabut transparan warna-warni yang diisi dengan suara kepala mereka. Tidak ada rahasia disini.

Bahkan terkadang, orang lain bisa melihat gambar dari apa yang sedang mereka bayangkan. Oh dan tidak ada perempuan yang hidup di kota Prentisstown ini.

Chaos WalkingTom Holland dalam Chaos Walking Foto: (dok.Lionsgate)

Tokoh utama kita adalah Todd Hewitt (Tom Holland). Anda akan segera mengingat namanya dengan cepat karena Todd adalah jenis remaja yang tidak mempunyai kemampuan untuk bisa mengontrol pikirannya. Akibatnya semua orang bisa mendengar apapun yang dia pikirkan. Semua kekesalannya dengan kemampuannya yang jelek. Kedua orang tua angkatnya yang tidak suportif.

Itulah sebabnya jika dia sedang panik, dia akan mengulang namanya terus-terusan demi kelihatan keren dikit dan bukannya pecundang. Nasib Todd yang membosankan akan segera berubah ketika pesawat jatuh dari luar angkasa dan satu-satunya yang selamat adalah seorang perempuan. Gadis tersebut bernama Viola (Daisy Ridley).

Seperti halnya banyak perempuan sebelumnya, Viola tidak menunjukkan apa yang dia pikirkan. Hal ini membuat Todd kesal saat mengenalnya. Hadirnya Viola tentu saja membuat warga Prentisstown geger. Kepala Prentisstown, David Prentiss (Mads Mikkelsen), menginginkan Todd untuk menangkap Viola.

Tentu saja pada awalnya baik-baik saja. Tidak butuh waktu lama bagi Todd untuk menyadari bahwa dia harus menyelamatkan Viola dari orang-orang yang mengejarnya. Dalam perjalanan menyelamatkan Viola ini Todd akhirnya belajar tentang masa lalu yang sengaja ditutup-tutupi dan bagaimana dia akhirnya menggunakan kemampuannya untuk bertahan hidup.

Melihat setengah jam Chaos Walking, saya melihat alasan kenapa Lionsgate memutuskan untuk mengadaptasi serial ini. Seperti halnya serial-serial remaja fantasi yang sudah dibuat, Chaos Walking memiliki daya tarik yang menarik. Premisnya sangat sederhana dan mencengkeram: bagaimana jika di sebuah dunia yang hanya ada lelaki dan mereka bisa mendengar isi kepala mereka satu sama lain, muncul perempuan dari antah berantah? Banyak skenario yang bisa dimainkan dari premis yang seksi ini.

Treatment visual Chaos Walking pun sangat menarik. Alih-alih membuat distopia yang sebelumnya menjadi signature film remaja fantasi (Hunger Games, Divergent, Maze Runner), film ini mengambil visual western lalu memasukkan karakter-karakter remaja pada umumnya. Sayangnya keberanian pembuat film untuk menjadi edgy dan menarik hanya berhenti di situ karena Chaos Walking dengan cepat berubah menjadi film yang sangat medioker.

Chaos WalkingDaisy Ridley dan Mads Mikkelsen dalam Chaos Walking Foto: (dok.Lionsgate)

Menggunakan tema western sebagai dasar Chaos Walking adalah sebuah keputusan yang menarik. Tapi sayangnya pembuat film ini tidak totalitas dalam mengeksploitasi kekerasan di dalamnya yang bisa menjadi commentary yang sangat asyik mengenai masculinity. Chaos Walking mempunyai potensi untuk melakukan itu semua dan tetap menjadi sebuah hiburan yang menegangkan.

Tapi yang terjadi adalah sebuah film remaja yang standar yang kentang dalam berbagai aspek. Sebagai western dia kurang sadis, sebagai fantasi dia kurang menggelitik indra, sebagai film remaja dia kurang membuat saya merasakan getaran-getaran di dalam perut.

Padahal diatas kertas semua resepnya sudah oke. Doug Liman yang pernah mempersembahkan kita The Bourne Identity, Mr. And Mrs. Smith dan Edge of Tomorrow mengajak Tom Holland dan Daisy Ridley sebagai pemandunya. Kemudian ada Mads Mikkelsen yang selalu sedap sebagai karakter antagonis.

Visualnya tidak mengecewakan. Tapi memang skripnya sudah berantakan duluan sehingga hasil akhirnya menjadi tawar sekali. Padahal penulis novel aslinya, Patrick Ness, bersama Christopher Ford yang mengadaptasi novelnya ini ke layar lebar.

Ada beberapa segmen dalam Chaos Walking yang terasa sangat futuristic dan menggugah. Bagaimana seorang remaja yang dikatakan loser oleh kebanyakan orang harus berhadapan dengan laki-laki yang kerap memaksanya untuk melakukan kekerasan demi bertahan hidup adalah sebuah gambaran masa depan yang menyeramkan.

Tapi sepertinya Lionsgate lebih ingin membuat drama gemas tentang remaja horny yang terpesona melihat perempuan untuk pertama kalinya. Dan untuk itulah Chaos Walking akhirnya menjadi chaos beneran. Film ini tidak jelek, tapi tetap saja. Potensinya terbuang sia-sia.

Chaos Walking dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "'The Invisible Man', Menegangkan dan Penuh Kejutan"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/doc)