Hot Review

Zack Snyder's Justice League: Penantian yang Tak Sia-Sia

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 19 Mar 2021 12:30 WIB
1.

Zack Snyder's Justice League: Penantian yang Tak Sia-Sia

Zack Snyders Justice League: Penantian yang Tak Sia-Sia
Justice League / Foto: Courtesy of Warner Bros. Pictures
Jakarta -

Zack Snyder's Justice League atau Justice League Snyder's Cut adalah sebuah produk yang sangat menarik kalau kita mau berbicara soal authorship. Kalau Anda tidak tinggal di dalam gua, Anda pasti tahu ceritanya.

Kalau Anda tidak begitu tahu, cerita singkatnya kira-kira seperti ini: Zack Snyder yang menjadi komandan untuk dua proyek DC (Man of Steel, Batman v. Superman) terpaksa harus mundur sejenak dari tugasnya untuk melanjutkan Justice League karena tragedi keluarga. Karena Warner Bros. saat itu ngotot filmnya harus rilis tahun 2017 (dengan alasan yang hanya para executive Warner Bros. yang tahu) memutuskan untuk menyewa Joss Whedon (The Avengers dan The Avengers: Age of Ultron) untuk menyelesaikan filmnya.

Hasil akhirnya adalah sebuah kekacauan yang menggelikan. Justice League yang dirilis tahun 2017 adalah dua jam nonstop penuh hal-hal yang akan membuat penonton mengernyitkan dahi. Dua jam memang durasi yang sangat sebentar untuk mengenalkan karakter-karakter baru (saat itu) seperti Barry Allen/The Flash (Ezra Miller), Arthur Curry/Aquaman (Jason Momoa) dan Victor Stone/Cyborg (Ray Fisher).

Belum lagi pembuat Justice League harus mengenalkan penjahatnya (Steppenwolf yang diperankan CiarĂ¡n Hinds, menggunakan teknologi motion capture), kenapa penjahatnya datang, bagaimana cara dia menguasai Bumi, bagaimana Bruce Wayne/Batman (Ben Affleck) berkolaborasi dengan Diana Prince/Wonder Woman (Gal Gadot) untuk membentuk geng baru yang akhirnya membawa penonton ke proses kebangkitan Clark Kent/Superman (Henry Cavill) dan lain sebagainya.

Semua hal itu tentu saja tidak akan bisa dilakukan dalam dua jam tanpa harus mengorbankan beberapa hal. Dan itulah sebabnya Justice League versi 2017 terasa compang-camping.

Zack Snyder sendiri sebagai sutradara bilang bahwa dia tidak pernah menonton Justice League versi Whedon. Menurut beberapa artikel yang saya baca, para produser melarangnya untuk menonton karena apapun yang dia inginkan tidak terjadi dalam versi 2017. Visi mereka memang tidak sama dan itulah sebabnya Justice League versi 2017 rasanya sangat aneh. Whedon agak cynical sementara Snyder menginginkan emosi yang over-the-top. Sebuah fusion yang sangat tidak cocok.

Hal yang menarik dari semua kebisingan ini adalah Snyder selalu berdeklamasi bahwa dia punya Justice League versi dia sendiri. Dia tahu bagaimana menceritakan cerita ini sesuai dengan visinya. Mendengar ini fans DC (atau fans Snyder?) berkampanye keras agar Warner Bros. memberikan penonton Justice League yang sesuai dengan apa yang kreatornya inginkan. Mereka membanjiri sosial media dengan hashtag #ReleaseTheSnyderCut, membuat baliho di ComicCon dengan kampanye yang sama dan lain sebagainya.

Dan untuk pertama kalinya kampanye ini berhasil. Warner Bros. akhirnya mendengarkan tangisan para fans dan mengiyakan Snyder untuk merilis versinya (dan mengucurkan puluhan juta dollar untuk mempersembahkan versi baru ini). Entah tujuannya karena memang ingin menyenangkan para fans yang kecewa atau ingin mendapatkan subscriber baru untuk streaming platform mereka (HBO Max).

Simak di halaman berikutnya cerita tentang Justice League