Emily In Paris: Suka Duka Kerja di Paris

Candra Aditya - detikHot
Sabtu, 03 Okt 2020 16:04 WIB
Emily In Paris
Foto: (dok. Netflix)
Jakarta -

Diciptakan oleh Darren Star yang terkenal dengan serial Sex and the City dan Younger, Emily In Paris adalah sebuah serial drama komedi terbaru Netflix yang siap akan menghibur Anda akhir pekan ini.

Semua resep yang dibutuhkan untuk membuat Anda lupa bahwa Anda sebaiknya tidak kemana-mana untuk menghindari Coronavirus ada di serial ini. Dengan 10 episode masing-masing berdurasi 30 menitan, Emily In Paris benar-benar ringan dan sedap untuk disantap dari awal sampai akhir. Layaknya french toast!

Emily (Lily Collins, sangat menggemaskan, sangat pas menjadi karakter ini) adalah seorang asisten yang baik. Dia tahu apa yang harus dia lakukan, kompeten dalam pekerjaannya dan seperti millenial pada umumnya, dia sangat handal menggunakan sosial media. Ketika bosnya, Madeline (Kate Walsh), mengetahui bahwa dirinya hamil dan tidak bisa pergi ke Paris untuk mengerjakan cabang perusahaan mereka disana, Emily terpaksa pergi.

Emily tentu saja mencintai ide ini. Adakah kota yang lebih indah dari Paris? Kopinya enak. Restorannya lucu-lucu. Pemandangan indah dimana-mana. Dan cowoknya tidak ada yang jelek sepertinya. Satu kekurangannya: Emily tidak bisa berbahasa Perancis. Dan ini adalah kekurangan yang agak fatal karena orang Perancis sangat benci dengan orang asing yang tidak fasih berbahasa Perancis.

Selain masalah bahasa, bos baru Emily di kantor barunya yang bernama Sylvie (Phippine Leroy-Beaulieu) ternyata menganggapnya sebagai kompetisi. Tentu saja karena Emily kelihatan polos, mempunyai semangat yang meledak-ledak dan tentu saja karena Emily luar biasa menawan. Saking menawannya sampai klien mereka, Antoine (William Abadie), menghadiahinya hadiah yang membuat satu kantor heboh.

Tapi bukan serial Darren Star namanya kalau tidak ada bumbu-bumbu cinta. Dengan background Paris yang romantis, Emily bertetangga dengan Gabriel (Lucas Bravo), seorang chef muda yang menggemaskan. Pertemuan mereka berdua menggemaskan, layaknya sebuah romantic comedy. Apakah Gabriel adalah cowok yang akan membuatnya jatuh hati? Ataukah ada drama lain yang siap mewarnai hidup Emily di Paris?

Tanpa tedeng aling-aling, Emily In Paris adalah sebuah serial yang cetek. Kalau Anda menyukai tontonan yang agak lebih berbobot dan punya substansi lebih dari sekedar orang-orang cantik dan tampan saling jatuh cinta, Emily In Paris bukanlah tontonan untuk Anda. Serial seperti Breaking Bad atau Mindhunter di Netflix mungkin lebih cocok untuk Anda. Tapi bagi Anda pecinta romantic comedy, film-film seperti The Devil Wears Prada dan pecinta serial klasik Sex and the City, Emily In Paris adalah pilihan yang sempurna bagi Anda.

Dari awal sampai akhir episode, Emily In Paris konsisten memberikan konflik-konflik receh tapi pasti akan membuat Anda betah. Bagaimana tidak betah kalau konflik-konflik menggemaskan ini dibungkus dalam sebuah balutan visual yang sangat mentereng. Bujet Netflix yang mahal terpampang jelas di serial ini karena untuk sebuah serial komedi romantis, Emily In Paris terlihat megah. Production value-nya jelas kelihatan mahal. Adegan fashion show terlihat seperti fashion show sungguhan. Lokasi-lokasinya tidak ada yang membosankan. Semuanya eksotis. Mungkin karena lokasinya di Paris jadi adegan jalan di gang saja kelihatan sinematik.

Tapi keglamoran Emily In Paris tidak terbatas di lokasi dan sinematografi yang ciamik. Seperti khas Darren Star yang sangat melek fashion, seperti yang ia lakukan di baik Sex and the City dan Younger, Emily In Paris penuh dengan berbagai macam baju yang mengkilap. Para pecinta fashion akan kegirangan melihat baju-baju yang dipakai si cantik Lily Collins disini. Tidak ada satu pun baju yang dipakainya yang terlihat biasa.

Secara plot, Emily In Paris memang seperti carbon copy dari serial-serial lama Darren Star. Kisah cinta Emily dan Gabriel bukan sesuatu yang baru. Love and hate relationship antara Emily dan bosnya juga sangat mirip dengan apa yang dipertunjukkan Darren Star melalui Younger. Tapi tetap saja, secetek dan seklise apapun Emily In Paris, ada sesuatu di dalamnya yang membuat saya betah menontonnya. Saking menghipnotisnya, saya menyaksikan 10 episode serial ini dalam sekali duduk. Mungkin ini semua ada hubungannya dengan bagaimana Lily Collins membawakan karakternya dengan baik. Emily Cooper meskipun "basic" tapi mewakili kita semua yang ingin hidup liar dan indah. Menikmati Paris sambil duduk di kafe dan menyesap wine.

Singkatnya, Emily In Paris adalah sebuah tontonan yang pas untuk Anda kunyah selama akhir pekan ini. Emily In Paris adalah sebuah escapism kelas wahid. Kalau Anda butuh tontonan yang bisa membuat Anda lupa tentang Coronavirus, PSBB, kisruh politik dan semua hal yang membuat kita pusing, serial ini adalah obat yang efektif untuk membuat itu semua lenyap. Menyaksikan orang-orang cakep dengan latar belakang Paris mencoba menyelesaikan masalah-masalah receh mereka dalam balutan baju desainer ternyata sangat ampuh untuk membuat kita lupa sejenak. Kadang kala sesuatu yang bling bling adalah tempat paling menyenangkan untuk disinggahi.

Emily In Paris dapat disaksikan di Netflix.


Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "Tanggapan Kartika Putri Dipolisikan Balik dr Richard Lee"
[Gambas:Video 20detik]
(dal/dal)