DetikHot

premiere

'Hotel Mumbai': Ketegangan Level Maksimal

Sabtu, 13 Apr 2019 10:36 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
Hotel Mumbai: Ketegangan Level Maksimal Foto: Hotel Mumbai (dok. IMDB)
Jakarta - 26 November 2008 adalah hari yang akan diingat oleh India (dan juga dunia) sebagai hari paling kelam dalam sejarah. Sekelompok teroris dari Pakistan, anggota dari Laskar-e-Taiba, datang ke Mumbai dan menyerang 12 lokasi di Mumbai.

Ratusan orang meninggal dunia. Ratusan orang menjadi korban. Seluruh dunia terluka. Dan Anthony Maras mencoba mereka ulang tragedi itu dalam film debutnya, Hotel Mumbai. Hasilnya ternyata cukup cemerlang.

Film ini tidak bermain-main. Maras cukup serius dalam menawan penonton dalam ketegangan. Filmnya langsung dibuka dengan 10 anggota teroris datang ke kota Mumbai menggunakan perahu.

Dengan ransel di punggung mereka dan earphone di telinga mereka, kita mendengarkan mereka berbicara dengan sosok misterius yang memberikan mereka perintah sementara kita melihat mereka dengan cekatannya bergerak menuju ke tempat yang akan mereka tuju. Dari sini musik dari Volker Bertelmann sudah berdentum-dentum mengatur ritme.

Kemudian kita bertemu dengan Arjun (Dev Patel), seorang pegawai Hotel Taj yang sedang mengurusi anaknya yang rewel. Kita kemudian menyaksikan sepatunya jatuh dari tasnya. Bekerja di restoran hotel yang mewah yang mempunyai moto bahwa "Tamu Adalah Tuhan" Arjun tadinya disuruh pulang oleh Hermant Oberoi (Anupam Kher), chef legendaris hotel.

[Gambas:Video 20detik]



Arjun kemudian dengan persuasif mengatakan bahwa istrinya sedang hamil dan setiap receh yang ada ia butuhkan. Oberoi luluh dan membiarkan Arjun memakai sepatunya yang kekecilan.

Sementara itu David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi) datang ke Hotel Taj bersama anak dan baby sitternya, Sally (Tilda Cobham-Hervey) untuk liburan. Ada juga seorang pebisnis Rusia, Vasili (Jason Isaacs) yang malam itu, seperti halnya David dan Zahra, bersantap malam di restoran.

Yang tidak mereka ketahui adalah di luar hotel semuanya kacau balau. Teroris-teroris biadab itu sudah menembaki orang-orang dan menghancurkan kota. Ketika akhirnya teroris tersebut berhasil masuk ke dalam hotel dan membunuhi satu per satu tamu hotel, mereka semua pun berusaha keras untuk menyelamatkan diri.

Masalahnya adalah polisi Mumbai tidak dilatih untuk teror seberat ini dan pasukan dari Delhi baru akan datang berjam-jam kemudian. Di dalam hotel suasananya pun berubah menjadi mimpi buruk.

Ada begitu banyak film yang menceritakan tentang kisah nyata sebuah tragedi. Beberapa ada yang tampil brilian (United 93), namun tidak sedikit juga yang tampil keteteran.

'Hotel Mumbai' ternyata masuk ke kategori pertama. Alasan utamanya adalah karena Maras sebagai sutradara tahu benar bagaimana menata kisah ini dengan begitu apik sehingga Anda akan ikut tegang meskipun beberapa karakternya adalah fiktif.

Yang membuat 'Hotel Mumbai' terasa genuine dan bukannya sebuah eksploitasi dari tragedi adalah John Colee dan Maras sebagai penulis skripnya mengangkat semua karakternya sebagai manusia-manusia yang nyata. Mereka membuat baik korban maupun penjahatnya sebagai karakter yang nyata.

Selama 121 menit Anda akan terbawa untuk merasa benar-benar peduli terhadap semua orang yang ada di dalam film ini. Maras juga tidak menjadikan karakter penjahatnya seperti karikatur teroris-teroris seperti film-film Hollywood lainnya.

Kita melihat mereka juga kadang ketakutan dan beberapa saat nampak seperti makhluk yang tersesat. Kita melihat bahwa para teroris dalam 'Hotel Mumbai' adalah makhluk-makhluk yang didoktrin oleh orang yang sangat sangat jahat.

Film semacam ini jelas menampilkan begitu banyak karakter. Baik Colee dan Maras menampilkan serangkaian karakter fiksi dan nyata dalam Hotel Mumbai. Poinnya tentu saja untuk membuat penonton tersadar bahwa tragedi seperti ini menelan banyak korban.

Minusnya adalah tidak ada satu pun karakter yang mendapatkan karakterisasi yang tiga dimensional. Bahkan Arjun yang paling banyak mendapatkan sorotan hanya bisa di­-define sebagai bapak/suami baik yang sangat berkomitmen dalam pekerjaannya dan mempunyai rasa kemanusiaan yang sangat tinggi. Untungnya meskipun karakter-karakter yang ada di dalam 'Hotel Mumbai' sangat tipis, aktor-aktor yang menampilkannya cukup brilian sehingga kita langsung attach dengan mereka.




Dengan pergerakan kamera yang mantap dan diedit dengan ketegangan super tinggi, 'Hotel Mumbai' akhirnya menjadi sebuah drama thriller yang menegangkan. Keputusan Maras untuk mencampur footage berita asli di antara shot-shot buatannya memang jalan pintas yang mudah untuk membuat urgensi film ini terasa paripurna tapi keputusan tersebut sungguhlah efektif.

Dari detik pertama film ini diputar, film ini langsung terasa mengikat dan tidak melepaskan pegangannya sampai akhirnya layar menggelap di akhir film.

Pada akhirnya, meskipun Hotel Mumbai adalah sebuah produk hiburan yang tujuan akhirnya adalah menggondol dollar sebanyak-banyaknya, motivasi kapitalis film ini dimaafkan karena Maras mampu membuat sebuah karya yang emosional.

'Hotel Mumbai' memang mengeksploitasi salah satu tragedi kelam namun Maras menggunakan kesempatan itu untuk memberikan cermin raksasa kepada penonton mengenai arti kemanusiaan. Perbedaan jenis kelamin, usia, orientasi seksual, agama sampai status sosial ekonomi semuanya tidak penting lagi ketika teror menyerang.
(dar/doc)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed