DetikHot

premiere

'Mortal Engines': Bertahan Hidup di Atas Roda Berputar

Selasa, 11 Des 2018 08:01 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
Mortal Engines: Bertahan Hidup di Atas Roda Berputar Foto: (imdb.)
Jakarta -

Dengan nama Peter Jackson sebagai produsernya, 'Mortal Engines' memberikan harapan bahwa film ini setidaknya bisa menjadi sebuah film fantasi yang tidak terlupakan. Diadaptasi dari novel karya Phillip Reeves, film ini memang memberikan ilusi itu.

Visualnya yang megah membuat Anda yakin bahwa Anda sedang menyaksikan sebuah film pertama dari sebuah franchise yang meyakinkan. Kemudian waktu berjalan dan Anda tersadar bahwa 'Mortal Engines' tidak memberikan apapun yang baru.


'Mortal Engines' tidak berbasa-basi. Ia langsung tancap gas sejak logo Universal muncul di layar. Kita mendengar narasi asing tentang bagaimana manusia-manusia malang di film ini berakhir seperti yang kita lihat di layar.

'Mortal Engines': Bertahan Hidup Di Atas Roda BerputarFoto: (imdb.)


Manusia seperti biasa haus dengan perang dan akhirnya membuat senjata yang membuat kota-kota luluh lantak dan sekarang manusia-manusia yang tersisa bertahan di kota-kota yang berjalan di atas mesin-mesin raksasa.

Yang paling besar dinamakan London karena memang kota ini seperti London yang berjalan di atas sebuah kota yang diberi roda. Ia gagah dan nampak perkasa. Hobinya adalah meluluh lantakkan kota-kota kecil yang ada di dekatnya sebagai sumber energi.

Tokoh utamanya adalah seorang gadis muda bernama Hester Shaw (Hera Hilmar) yang dilihat dari ekspresi mukanya mempunyai obsesi dengan London. Tapi dia tidak terobsesi dengan kotanya, dia terobsesi dengan pemimpinnya, Thaddeus Valentine (Hugo Weaving).

'Mortal Engines': Bertahan Hidup Di Atas Roda BerputarFoto: (imdb.)



Shaw yakin bahwa Valentine adalah orang yang jahat. Sejarawan bernama Tom Natsworthy (Roberth Sheehan) yang tinggal di London menolak percaya bahwa Valentine adalah orang yang jahat.

Disutradarai oleh Christian Rivers, 'Mortal Engines' adalah sebuah film dengan visual yang sungguh megah. Walaupun tentu saja, secara sekilas 'Mortal Engines' terasa seperti versi murah dari 'Mad Max: Fury Road'. Gaya steampunk dan musik score Junkie XL mengingatkan saya terhadap masterpiece karya George Miller tersebut. Tapi kesamaannya hanya berhenti disana karena 'Mortal Engines' tidak mempunyai kedalaman cerita atau karakter yang menarik.

Film ini sungguh bermain aman sehingga apapun yang ada di layar terasa begitu familiar. Plotnya sungguh bisa ditebak. Setelah lima belas menit berjalan Anda akan bisa menebak ke mana 'Mortal Engines' akan pergi sampai ke endingnya. Tidak ada twist atau tukikan plot yang berarti. Semuanya sesuai dengan resep Hollywood: tokoh utama dengan backstory yang menyedihkan dan relatable, love interest yang pintar, penjahat yang menyebalkan, ally yang keren dan konklusi yang heboh. Ini bisa saja menjadi menyenangkan kalau saja semuanya dibuat dengan treatment yang lebih percaya diri.

'Mortal Engines' terasa begitu klise bahkan si tokoh utamanya saja tidak mempunyai karakteristik yang gampang diingat. Bandingkan dengan, katakan saja Katniss Everdeen atau Furiousa. Shaw sebagai pahlawan utama sungguh sangat pasif. Ini adalah ceritanya tapi dia justru aja berfungsi plot device agar film terus berjalan. Aksi-aksi yang menyenangkan justru dilakukan oleh karakter pembantu bernama Anna Fang (Jihae) yang memang dari looks sampai dialog dia sungguh mencuri perhatian.

'Mortal Engines': Bertahan Hidup Di Atas Roda BerputarFoto: (imdb.)



Dunia yang diciptakan oleh Rivers memang perlu diacungi jempol. Dunia yang ada di 'Mortal Engines' terasa nyata. Hanya saja semakin film berjalan, semakin Anda tersadar bahwa itu semua hanya ilusi. Selain tokoh utamanya, semua karakter pembantu terasa seperti tempelan. Tidak ada penjelasan lebih detail tentang siapa mereka, misi mereka dan hubungan mereka dengan cerita. Sempat ada petunjuk tentang anak Valentine dan love storynya tapi ternyata sampai film selesai tidak ada penjelasan yang meyakinkan.

Di tangan yang tepat, 'Mortal Engines' bisa menjadi sebuah film fantasi yang menggembirakan. Kemiripannya dengan animasi Ghibli membuat banyak orang berharap banyak. Sayangnya, tidak seperti animasi Ghibli, yang tersisa dari film ini adalah barisan gambar indah tanpa feeling. Cukup menggetarkan tapi tetap saja, hampa.


(doc/doc)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed