DetikHot

premiere

'Venom': Prolog Hambar si Anti-Hero

Kamis, 04 Okt 2018 10:47 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
Venom: Prolog Hambar si Anti-Hero Foto: (ist)
Jakarta -

Ini bukan pertama kalinya penonton menyaksikan live-action Venom. Tahun 2007, ketika Rihanna baru menunjukkan taringnya di dunia musik dengan 'Umbrella' dan Michael Bay masih dianggap pahlawan karena berhasil mempertontonkan film pertama 'Transformers' yang ternyata sangat, sangat menyenangkan, Sam Raimi merilis 'Spider-Man 3' yang memunculkan karakter legendaris tersebut.

Diperankan oleh Topher Grace, Venom adalah anti-thesis Spider-Man. Sama-sama kuat tapi Venom merengkuh kegelapan. Hasilnya hancur lebur. Saking hancur leburnya Sony langsung menekan tombol restart dan membuat 'The Amazing Spider-Man' kemudian menekan tombol restart lagi ketika akhirnya tokoh tersebut bergabung dengan pahlawan Marvel yang lain.

11 tahun ternyata waktu yang dibutuhkan untuk Sony memberikan panggung spesial bagi Venom. Dengan bintang sebesar Tom Hardy, Venom yang disutradarai oleh Ruben Fleischer diharapkan bisa menjadi sumber tambang emas baru. Meskipun tanpa kehadiran si Spider-Man, Sony berharap bahwa kharisma dan karakter Venom yang unik bisa menjadi penyelamat.

'Venom': Prolog Hambar si Anti-HeroFoto: (ist)


Eddie Brock (Tom Hardy) adalah seorang jurnalis yang sangatlah keren. Dia punya apartemen yang bagus, pacar yang cantik dan suportif yaitu si Anne Weying (Michelle Williams) dan kucing sebagai peliharaan mereka. Sebagai seorang jurnalis untuk TV lokal, karirnya cukup bersinar. Dia cukup terkenal sampai-sampai orang asing bisa mengenalinya di jalanan.

Kemudian suatu hari dia mendapatkan tugas untuk mewawancara Carlton Drake (Riz Ahmed), seorang ilmuwan kaya raya yang punya obsesi untuk menyelamatkan manusia. Ia baru saja melakukan misi di luar angkasa dengan membawa spesimen luar untuk dijadikan bahan eksperimen. Ia mengaku kepada bawahannya, salah satunya adalah Dr. Dora Skirth (Jenny Slate), bahwa semua ini adalah untuk kepentingan manusia. Tapi penonton akan tahu bahwa dari sinar matanya yang mengkilat, ia ingin menjadi Tuhan.

Tonton video ''Venom', Film Anti-hero yang Krisis Identitas':


Tentu saja sebagai jurnalis yang baik, Eddie Brock tidak bisa diam saja dan menanyakan hal-hal sepele kepada Drake. Dia melakukan kesalahan dengan mengintip berkas rahasia kekasihnya dan menanyakan soal kematian anak buah Drake yang misterius akibat membawa alien dari luar angkasa. Hasilnya adalah Eddie Brock dipecat, kehilangan apartemen, kehilangan kucing dan kehilangan kekasihnya.


Tak lama kemudian Dr. Skirth datang dan meminta bantuan Eddie Brock untuk mengungkap siapa sebenarnya Drake. Ia galau karena ia tahu dengan pasti bahwa Drake adalah orang jahat. Saat Eddie Brock menyusup ke laboratorium Drake, symbiote tersebut merasuki tubuhnya. Dan saat itulah ia mempunyai kekuatan super dan suara-suara muncul di dalam kepalanya. Selamat datang, Venom.

11 tahun adalah waktu yang cukup lama. Semenjak 'Spider-Man 3', film superhero sudah berubah. Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya film superhero yang dirilis, mereka akhirnya menjadi genre tersendiri. Film-film superhero akhirnya terus-terusan berinovasi dan menulis karakteristiknya sendiri untuk menjadi yang terbaik. Ini bisa menjadi senjata bagi Venom. Namun sayangnya, melihat hasil akhirnya, Venom menjadi lawan yang tak sebanding bagi teman-temannya yang lain.

'Venom': Prolog Hambar si Anti-HeroFoto: (ist)



Skrip yang ditulis oleh Jeff Pinkner, Scott Rosenberg dan Kelly Marcel sangatlah konvensional. Konvensional dalam artian ia tidak menawarkan sesuatu yang baru. Plotnya sangat mudah ditebak, karakterisasi tokoh-tokohnya sangat tipis dan dialog-dialognya sestandar "pergi kamu dari sini". Tidak ada yang spesial dan mengejutkan dari segi cerita.

Kemudian hal tersebut diperparah dengan penyutradaraan Fleischer yang loyo. Secara visual, Venom berusaha mengikuti kegelapan yang ditampilkan film-film DC. Namun secara identitas, film ini berusaha keras untuk mencari jati dirinya. Ini adalah kelemahan terbesar Venom. Jika Marvel tahu bahwa ia adalah film-film superhero yang happy-go-lucky lengkap dengan berbagai jokes yang tampil sepanjang film, 'Deadpool' adalah film superhero yang sarkas dan tidak malu-malu untuk mengejutkan penonton, DC berusaha keras untuk tampil se-edgy mungkin. Usaha DC kadang gagal, tapi setidaknya ia mempunya kepribadian. 'Venom' sama sekali tidak mempunyai itu.

Editingnya tertatih-tatih. Butuh setengah jam lebih bagi 'Venom' untuk menunjukkan kegilaan yang penonton inginkan. Dan selama menunggu, 'Venom' adalah sebuah thriller sci-fi yang tidak ada tegang-tegangnya. Ketika akhirnya Eddie Brock bertemu dengan Venom, film ini memang berubah menjadi sedikit agak menyenangkan. Tom Hardy adalah aktor yang bagus dan ekspresi kebingungan dan paniknya ketika berinteraksi dengan Venom sangatlah brilian. Tetapi ini juga menyebabkan tone film yang berubah. Venom sekarang berubah menjadi buddy comedy yang jokes-jokesnya hit dan miss. Kadang lucu, kadang garing.

'Venom': Prolog Hambar si Anti-HeroFoto: (ist)


Ketika akhirnya kita sampai di klimaks, lengkap dengan berbagai adegan action yang tidak spesial, Venom akhirnya membuktikan bahwa ia ternyata tidak selegendaris itu. Karakternya memang menarik dan edgy namun sayangnya pembuat filmnya tidak tahu mau diapakan karakter ini. Film ini kurang edgy untuk menjadi Deadpool tapi ia terlalu berantakan (film ini mengisahkan tokoh utama yang memakan kepala para penjahat ketika ia sedang lapar) untuk bisa berteman dengan film-film Marvel yang lain.

Selain Tom Hardy, tidak ada aktor lain yang mendapatkan kesempatan untuk bersinar. Michelle Williams yang sangat berbakat hanya berfungsi sebagai gula-gula disini. Karakternya tidak ada. Riz Ahmed yang juga brilian tampil seperti karikatur. Tidak ada bedanya dengan para penjahat yang pernah kita lihat di film-film sejenis. Di ending Venom, Eddie Brock bertemu dengan penjahat lain yang harapannya bisa dijadikan pancingan untuk sekuelnya. Kalau memang sekuel Venom dibuat, mari kita harap agar sekuelnya lebih mempunyai taring. Karena Venom yang ada sekarang walaupun kelihatannya menyeramkan, ia terlalu lembek untuk dijadikan idola.


(doc/doc)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed