Pasangan selebritas Sonny Septian dan Fairuz A Rafiq kembali mencuri perhatian lewat pola asuh terhadap anak-anak mereka. Di balik kekompakan keluarga mereka, ternyata ada cerita yang relatable bagi para orang tua menghadapi anak jenuh.
Fairuz bercerita, putra sulungnya, Faaz yang kini berusia 13 tahun, memang mendapat reward khusus selama Ramadan untuk hapalan Al-Qur'an. Namun, bukan cuma soal target hapalan, ada juga penilaian adab dan akhlak.
Meski terlihat konsisten, Fairuz tak menampik anak-anak tetap mengalami masa jenuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau lagi gak mood, kita gak pernah maksa, gak pernah harus selesai saat itu juga," kata Fairuz di Studio TransTV, Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, kemarin.
Di situlah tantangan orang tua terasa nyata. Alih-alih menjadi sosok yang otoriter, Fairuz dan Sonny memilih pendekatan hati ke hati.
Mereka memberi pemahaman tentang keuntungan jika melakukan hapalan tepat waktu dan konsekuensi jika ditunda. Tentunya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak-anak.
Sonny Septian menambahkan, anak sejatinya belajar dari contoh, bukan sekadar perintah.
"Kalau kita memerintahkan, tapi gak memperlihatkan, mereka gak akan mencontoh. Tapi kalau mereka melihat, nanti mereka akan ikut dengan sendirinya," jelasnya.
Bagi Fairuz A Rafiq, kunci parenting mereka sebenarnya sederhana: melibatkan Allah dalam setiap aktivitas keluarga. Sementara Sonny menekankan satu prinsip utama, yakni keluarga harus saling sayang dan saling jaga.
Namun di balik konsep yang terdengar ideal itu, perjuangan sehari-hari tetap ada. Menghadapi anak yang jenuh, menjaga konsistensi murajaah agar hapalan tak hilang, hingga menahan diri untuk tidak menjadi diktator adalah proses yang terus mereka pelajari sebagai orang tua.
"Tapi bagaimana caranya kita sebagai orang tua bukan menjadi apa ya, diktator buat anak," tutup Fairuz A Rafiq.
(pus/pus)











































