DetikHot

premiere

'The Equalizer 2': Pahlawan Super Tanpa Tanda Jasa

Sabtu, 18 Ags 2018 13:42 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
The Equalizer 2: Pahlawan Super Tanpa Tanda Jasa Foto: imdb
Jakarta - The Equalizer 2 adalah sekuel pertama Denzel Washington. Dengan resume yang begitu spektakuler, Anda kira Denzel mungkin akan memilih film dia yang jauh lebih populer atau lebih dipuja-puja. Seperti Training Day misalnya. Tapi ternyata tidak. Ia memilih The Equalizer sebagai sekuel pertamanya. Mungkin kerja dengan Antoine Fuqua memang sebegitu mengesankannya sehingga dia mau untuk diajak main untuk film berikutnya. Dan ternyata, hasilnya tidak mengecewakan.

Sebenarnya, itu adalah bagian paling mengejutkan dari film ini. Bahwa ternyata duet Denzel Washington dan Antoine Fuqua untuk kedua kalinya (dalam serial ini) menghasilkan film yang tidak buruk. Bandingkan dengan film-film sejenis yang dibuatkan sekuelnya. Berapa presentase film yang hasil akhirnya menjadi lebih baik atau paling tidak menyamai kedudukan film pertamanya? Presentasenya sangat sedikit. Dan itulah yang membuat The Equalizer 2 menjadi suatu achievement yang lumayan.

Yang menarik dari film ini adalah Antoine Fuqua bersama penulis skripnya, Richard Wenk, mengubah cara bertutur. Jika film pertamanya jauh lebih action-packed, dalam film keduanya Fuqua dan Wenk mengubah The Equalizer menjadi sebuah slow-burning thriler yang mumpuni. Dengan durasi 2 jam dan adegan aksi yang jauh lebih sedikit, seharusnya ini akan membuat filmnya menjadi lebih membosankan. Tapi ternyata tidak. The Equalizer 2 justru menggigit. Dan mungkin membuat penonton menjadi lebih dekat dengan karakter utamanya.

Dalam sekuel pertamanya, kita melihat Robert McCall menjadi seorang pahlawan sembari menjadi supir untuk Lyft (semacam taksi online). Dia rela pergi ke Turki untuk mengambil kembali anak yang diculik oleh seorang suami yang ingin menghukum istrinya. Dia mengembalikan anak tersebut dalam diam-diam dan tak ingin diketahui keberadaannya. Dia melakukan ini semua karena mungkin dia sudah bosan. Dia tinggal sendiri dan buku yang harus ia baca dari 100 must read books sudah sampai di angka terakhir.

Tapi tentu saja hidup McCall tidak akan pernah tenang. Yang pertama mencuri fokus perhatiannya adalah untuk mengubah nasib tetangganya, Miles Whittaker (Ashton Sanders), yang berpotensi menjadi kriminal menjadi anak muda yang berbakat. Dan yang kedua adalah menyelidiki tentang kematian rekan kerjanya yang sudah ia anggap menjadi keluarganya. Investigasinya berubah menjadi berbahaya ketika para penjahat mencium jejak langkahnya dan kini McCall menggunakan semua kemampuannya untuk membongkar misteri ini.

Kalau ada satu kata yang bisa mendeskripsikan The Equalizer 2, kata itu adalah "humanis". Film ini membuat karakter Robert McCall menjadi lebih humanis. Apapun yang ia lakukan sepanjang film, akan membuat Anda semakin jatuh hati kepadanya. Dan fakta bahwa Denzel Washington memainkan karakter ini dengan begitu bagus juga membuat sosok ini menjadi semakin pecah. Bahkan ketika McCall menggunakan kekerasan dalam melakukan tugasnya (bahkan kadang kala dengan cara yang sangat berlebihan), Anda akan memaafkan apa yang ia lakukan karena kita semua tahu bahwa McCall melakukannya untuk kebaikan.

Menjadikan McCall menjadi sopir taksi online ternyata membuat film ini menjadi mempunyai fokus yang menarik. Kita menjadi melihat bagaimana reaksi McCall terhadap stranger yang ada di sekitarnya. Kita menyaksikan seorang pahlawan yang sangat paham bagaimana cara berinteraksi atau bereaksi terhadap orang sekitarnya. Apakah ia harus berbicara, apakah harus diam, apakah ia harus bercanda atau dalam satu kasus, apakah ia harus mendatangi sekumpulan anak muda yang dengan tega membius dan meniduri cewek dalam keadaan tidak sadar.

Kemudian ada plot besar antara McCall dengan Miles Whittaker yang menjadikan The Equalizer 2 seperti sebuah drama keluarga yang kebetulan disusun dengan puing-puing action. Ketika McCall berinteraksi dengannya, film ini menjadi hangat. Fuqua menggunakan hubungan mereka sebagai pondasi yang asyik, terutama ketika ia mencoba menggoyahnya di bagian klimaks.

Meskipun The Equalizer 2 lebih banyak dramanya (dan kadang kala memang terlalu banyak subplot) daripada actionnya, Fuqua tidak pernah lupa bagaimana merangkai adegan laga. Adegan laga dalam film ini tetap intense dan menyakitkan-tapi-enak-untuk-disantap. Setiap suara tulang patah dan hantaman ke objek-objek keras adalah sebuah perayaan yang menyenangkan. Dipadu dengan koreografer yang asyik dan kamera yang dinamis, adegan aksi The Equalizer 2 sama sekali tidak mengecewakan.

Kekurangan film ini mungkin terletak di karakterisasi penjahatnya yang kurang dimensi. Dan kadang kala, terlalu banyak subplot menjadikan film ini agak melelahkan. Tapi duet Fuqua dan Washington terlalu apik untuk dilewatkan. Menyaksikan seseorang yang begitu lihai dengan kemampuannya dan melakukannya demi kebaikan adalah sebuah pengalaman menonton yang mengasyikkan. Dan yang keren, dia melakukannya semua tanpa kekuatan super. Itu baru mantap.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.
(kmb/kmb)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed