Dear White People: Investigasi Menyenangkan soal Rasisme

Dear White People: Investigasi Menyenangkan soal Rasisme

Candra Aditya - detikHot
Senin, 07 Mei 2018 13:42 WIB
Dear White People: Investigasi Menyenangkan soal Rasisme
Foto: imdb.
Jakarta -

Dalam lanskap TV (dan sekarang internet) yang begitu luas, agak susah bagi kita, penikmat serial TV untuk bisa menonton semua hal. Bahkan kritikus Hollywood pun banyak yang mengakui bahwa di era 'puncak keemasan TV' ini, mereka tidak bisa menonton semua serial TV yang mengudara. Hadirnya streaming service seperti Netflix, Hulu, Amazon Prime, Freeform dan lain sebagainya melahirkan begitu banyak konten yang mustahil untuk kita tonton semuanya.

Dan mereka semua, baik TV maupun streaming service, berlomba-lomba untuk menyajikan tontonan yang epik dan adiktif. Seperti narkoba yang berusaha keras untuk menarik Anda untuk terus menontonnya. Sekarang giliran kita yang kebingungan. Dengan begitu banyaknya tontonan yang tersedia, mana yang seharusnya kita tonton?

Jika Anda menggemari tontonan remaja yang cerdas, tontonan yang mengangkat isu-isu terkini mengenai manusia dan ras, yang kemudian dibalut dalam humor yang jenius, 'Dear White People' mungkin tontonan yang menarik bagi Anda. Komedi berdurasi setengah jam per episode ini merilis musim keduanya beberapa hari yang lalu dan ini adalah saat yang tepat bagi Anda untuk menyantapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diadaptasi dari film layar lebarnya sendiri, Justin Simien memberikan contoh kepada banyak pembuat film tentang bagaimana caranya merubah struktur bercerita dari format feature length ke episodic. 'Dear White People' sebenarnya sangatlah sederhana, namun dalam format barunya, ia memberikan kebebasan kepada karakter-karakternya untuk mengembangkan sayapnya sehingga ia menjadi sebuah dunia yang terasa begitu nyata.

Dear White People: Investigasi Menyenangkan soal RasismeFoto: imdb.



Dalam 'Dear White People', kita tinggal (dan mengobservasi) sebuah kampus Ivy League fiksi bernama Winchester. Ada Samantha White (Logan Browning), seorang turunan campuran Caucasian dan African-American yang muak dengan semua white-privillage student yang ada di kampusnya. Untungnya Sam mempunyai pamflet untuk menyuarakan kata hatinya, yaitu sebuah acara radio kampus bernama 'Dear White People'.

Disana ia mempunyai teman, kekasih dan musuh. Yang masuk kategori teman adalah Troy (Brandon P. Bell), anak kepala sekolah yang sedang tertekan dengan keinginan ayahnya; Joelle Brooks (Ashley Blaine Featherson), seorang sahabat yang setia meskipun banyak orang menganggap Sam menyebalkan; Lionel Higgins (DeRon Horton), seorang calon jurnalis yang berusaha mencari cerita; Coco (Antoinette Robertson), ratu sosial yang berusaha menjadi queen bee; Reggie (Marque Richardson) pembela suara-suara yang terbungkam dan lari ke barisan paling depan jika terjadi sesuatu. Kekasih Sam adalah Gabe Mitchell (John Patrick Amedori), seorang post-graduate student yang kebetulan adalah kulit putih. Gabe adalah salah pemicu konflik bagi Samantha White dan teman-temannya.

Sam, bersama teman-teman lainnya, tinggal di asrama Armstrong-Parker House yang isinya dihuni oleh siswa-siswa African-American. Di sinilah Sam menemukan musuhnya: ketika majalah sekolah bernama Pastiche mengadakan sebuah pesta dengan tema "blackface". Tentu saja anak-anak AP House ngamuk dengan ini dan disinilah Samantha menemukan bahwa ada isu yang lebih gawat dari sekedar pesta "blackface".

Dalam musim kedua 'Dear White People', Justin Simien memperluas dunia karakter-karakternya. Ketika musim pertama 'Dear White People dibuat', Simien tidak tahu bahwa Trump akan menjadi presiden. Musim kedua 'Dear White People' mencoba menggambarkan itu tanpa menyebut nama Trump atau kata "presiden" sama sekali. Dalam salah satu adegan, Sam, yang kelelahan setengah mati mengatakan ke Joelle bahwa, "Semuanya berubah. Logika, alasan, percakapan. Semua sudah hilang sekarang." Kita, sebagai penonton, merasakan kepahitan yang dirasakan Sam.

Inilah mengapa musim kedua 'Dear White People' sangatlah menggigit. Semua karakter-karakternya tidak hanya menghadapi horor di luar, tapi juga masalah dalam diri mereka sendiri: Sam diserang oleh akun twitter alt-right; Troy berubah menjadi cowok yang linglung setelah aksinya di musim sebelumnya; Lionel mencoba untuk mengembangkan kemampuan sosialnya dengan mencari kekasih; Coco entah kenapa ngidam permen terus-terusan; Gabe mencoba berdamai dengan masa lalu yang masih menghantui; Reggie mengalami PTSD setelah polisi mengacungkan pistolnya ke kepalanya; dan Joelle mencoba tabah meskipun dia selalu menjadi orang kedua setiap kali pergi kemana-mana dengan Sam.

Dear White People: Investigasi Menyenangkan soal RasismeFoto: imdb.



Musim kedua 'Dear White People' masih mempunyai struktur yang sama dengan musim pertamanya di mana setiap episode didedikasikan kepada satu karakter. Tapi dalam musim kedua ini rasanya lebih fresh karena kita menghadapi karakter-karakter yang berada di luar zona nyaman mereka. Treatment fokus-kepada-satu-karakter ini juga memberikan suasana yang berbeda di setiap episodenya. Dalam 'Dear White People', Anda tidak akan tahu apa yang akan Anda dapatkan. Anda bisa merasakan nuansa noir ketika memasuki episode Lionel yang berusaha keras menjadi jurnalis yang baik, sebuah romantic comedy ketika melihat episode Joelle bersama cowok yang baru ia kenal atau sebuah drama yang intense dengan nuansa teater ketika Gabe dan Sam akhirnya bertemu setelah akhir yang rumit di musim pertama.

Secara teknis, Dear White People adalah sebuah tontonan yang tokcer. Gerakan kameranya begitu precise, pencahayaannya begitu eksotis dan framing-nya begitu spesifik, mengingatkan saya terhadap Wes Anderson. Musiknya tetap bergejolak seperti biasa; Simien tahu bagaimana memasukkan musik klasik dan musik kontemporer ke dalam pertunjukannya. Dan editingnya benar-benar tajam. Potongan adegannya benar-benar detil sehingga 'Dear White People' tidak pernah terasa kelamaan atau ngambang.

Keberhasilan musim kedua 'Dear White People' memang berada di tangan Justin Simien dan tim penulisnya. Ia tahu bagaimana menceritakan sebuah kisah pedih dan teriakan putus asa dalam sebuah tontonan yang benar-benar menghibur. Walaupun kadang isi tawanya dipenuhi air mata, serial ini benar-benar menyenangkan untuk ditonton. Dipandu dengan barisan cast yang luar biasa berbakat, Simien mempersembahkan kita sebuah jackpot yang tak terkira.
'Dear White People' bukan buat Anda yang berpikiran sempit. Serial ini meminta (dan sering kali, memaksa) Anda untuk menjadi orang yang sangat open-minded dan melek soal isu-isu budaya yang terjadi di Amerika sana. Jika Anda siap dengan itu semua, maka ketika karakter-karakternya menatap Anda balik di layar TV (atau komputer) Anda, Anda akan tahu bahwa Anda sedang menyaksikan keajaiban.

Musim pertama dan kedua Dear White People dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(doc/doc)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads