Review Film

Kidnap: Perjuangan Seorang Ibu Melawan Penculik

Nugraha - detikHot
Rabu, 23 Agu 2017 20:22 WIB
Foto: dok IMDB
Jakarta - Setelah lama ditunda perilisannya akibat bangkrutnya si studio Relativity Media, Kidnap akhirnya hadir juga di akhir musim panas 2017 ini. Film ini mencoba mengajak penonton untuk peduli dengan derita Halle Berry sebagai Karla yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan anaknya dengan selamat setelah si anak diculik.

Penonton akan segera tahu bahwa film ini akan menggaris-bawahi hubungan si anak dan ibu ketika Luis Prieto, sang sutradara, membuka film dengan footage video enam tahun pertama Frankie (Sage Correa) dan betapa si ibu bangga dengan anaknya. Kemudian kita akhirnya lompat ke masa kini dan melihat Karla (Halle Berry) adalah seorang single mother yang sangatlah berjuang. Dia berjuang untuk mendapatkan custody anak semata-wayang dari suaminya. Dan dia berjuang mencari nafkah dengan bekerja sebagai pelayan di sebuah diner.

Hidupnya memang berat, namun melihat Frankie ada di sampingnya membuat hidupnya menjadi lebih indah. Kemudian hari itu ketika Karla terpaksa harus mengangkat telepon dari pengacaranya, Karla menyadari bahwa anaknya menghilang. Kemudian dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, anaknya diculik. Karla pun menggunakan segala kekuatannya untuk mendapatkan kembali harta terbesarnya.

Sesungguhnya, Kidnap tidak jauh berbeda dengan Taken. Kita menyaksikan bagaimana cinta orang tua bisa mengalahkan banyak hal, termasuk penjahat kelas kakap. Hanya saja jika Taken menghibur kita melalui berbagai macam adegan aksi dan karakterisasi tokoh utama yang menarik, Kidnap menyajikan semuanya tanpa bumbu apapun. Hasilnya, Kidnap memang sebuah thriller yang hambar.

Skrip yang ditulis oleh Knate Lee sama sekali tidak memberikan hal yang baru. Perjuangan Karla dalam mendapatkan anaknya sama sekali tidak spesial. Gambaran penjahatnya pun hanya dua dimensi. Tidak ada yang berbeda dengan penjahat-penjahat di film-film kelas B pada umumnya. Dan semua itu diperparah dengan penyutradaraan Luis Prieto yang melempem. Unsur bahaya yang harusnya menjadi dominan di film ini sama sekali absen.

Penonton tidak diberikan bagaimana tegangnya ketika seorang anak diculik. Prieto hanya fokus untuk menjelaskan bagaimana si karakter utamanya berjalan dari poin A ke poin B. Begitu seterusnya sampai film berakhir. Yang juga parah adalah visualisasi Prieto terhadap kepanikan Karla yang hanya bergantung kepada Karla berbicara pada dirinya sendiri di sepanjang film. Dengan dialog-dialog yang juga memble, menonton Kidnap terasa seperti menonton sebuah ratapan yang tidak perlu.

Meskipun begitu, patut digaris bawahi bahwa Halle Berry memerankan karakter Karla dengan sungguh-sungguh. Ia bisa membawa karakter ini menjadi sosok yang patut menjadi kompas film ini bahkan dengan dialog-dialog menggelikan yang terpaksa ia ucapkan sepanjang film.

Kidnap pada akhirnya menjadi sebuah thriller yang sesederhana judulnya. Poin positifnya, mungkin, film ini tidak pretensius. Kidnap tidak berupaya atau berpura-pura untuk menjadi sebuah thriller yang mind-blowing. Film ini cukup koheren dan apa adanya. Dan film ini bisa saja menjadi tontonan menghibur kalau Anda ingin menonton tontonan yang tidak mikir-mikir amat. Tapi jika Anda menginginkan sebuah film thriller yang memikat, Kidnap jelas bukan jawabannya.

Candra Aditya adalah seorang pengamat film dan lulusan Binus International.

(nu2/nu2)