'The Hateful Eight': Intrik 8 Orang di Tengah Badai Salju

'The Hateful Eight': Intrik 8 Orang di Tengah Badai Salju

Candra Aditya - detikHot
Rabu, 20 Jan 2016 11:05 WIB
The Hateful Eight: Intrik 8 Orang di Tengah Badai Salju
Jakarta -

Film kedelapan Quentin Tarantino ini akan memuaskan Anda sebagai penggemar setia sutradara auteur yang satu itu. Bagi Anda yang bukan penggemar Tarantino tapi sudah pernah menonton karya-karyanya seperti ‘Pulp Fiction’, ‘Kill Bill’ sampai ‘Inglorious Basterds’ dan yang terakhir ‘Django Unchained’, tentu sudah tahu apa yang akan Anda lihat: komedi yang aneh, akting para pemain yang keren, kekerasan yang sengaja dibuat “lebay" dan dialog-dialog yang tidak ada duanya.

‘The Hateful Eight’ dibuka dengan perkenalan sederhana. Major Marquis Warren (Samuel L. Jackson) adalah seorang bounty hunter yang butuh tumpangan. John Ruth (Kurt Russell) yang juga merupakan bounty hunter curiga dengan motivasi Major Warren. Apalagi John Ruth sedang membawa Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh) yang merupakan seorang buronan dengan harga sepuluh ribu dollar. Tapi John Ruth kemudian percaya bahwa Major Warren bukanlah orang berbahaya.

Bersama-sama, mereka pergi menuju Red Rock sebelum badai menyerang. Kemudian mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah pondok langganan mereka. Bersama dengan Chris Mannix (Walton Goggins) yang mengaku Sheriff terbaru Red Rock, mereka menemukan bahwa pondok langganan tersebut ternyata sudah ditempati oleh empat orang yang tidak mereka kenal. Ada Bob (Demian Bichir), penjaga selama pemilik pondok pergi liburan Natal. Ada Oswaldo Mobray (Tim Roth) yang mengaku sebagai tukang jagal untuk acara eksekusi di Red Rock. Ada Joe Gage (Michael Madsen) seorang penulis yang sedang menuju ke tempat ibunya untuk Natalan. Dan, ada General Sandy Smithers (Bruce Dern) yang hanya diam saja di tempat duduknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Semuanya kelihatan rapi dan berjalan sesuai rencana. Sampai akhirnya waktu berlalu dan sepertinya cerita tentang orang-orang ini tidak semeyakinkan yang kita kira sebelumnya.

Disyut dengan kamera 70 mm, dan diputar dengan medium yang sama di beberapa tempat di Amerika, ‘The Hateful Eight’ menawarkan visual yang spektakuler. Setiap butiran salju seperti bagian dari narasi yang penting. Setting yang terpencil dan fokus Tarantino kepada delapan orang ini semakin mengukuhkan statement-nya bahwa tidak ada baik dan jahat di dunia ini. Semua orang mempunyai motivasi sendiri-sendiri.

Dan, seperti karya-karya Tarantino sebelumnya, film ini dipenuhi aktor-aktor dengan performa luar biasa. Samuel L. Jackson adalah orang yang paling bisa diandalkan untuk mengucapkan dialog-dialog Tarantino yang kasar namun terdengar seperti puisi. Kurt Russell sangatlah tangguh. Walton Goggins adalah comedic relief dan tukang provokasi yang sempurna. Demian Bichir terlihat sangat shady. Tim Roth kelihatan jinak namun mematikan. Michael Madsen patut dicurigai dan Bruce Dern melengkapinya dengan sosok orang tua menyebalkan.

Namun semua mata akan menuju kepada Jennifer Jason Leigh. Skrip Tarantino memang memusatkan semua konflik dan intrik dan pengkhianatan kepada sosok Daisy. Namun Jennifer Jason Leigh menyuntikkan unsur elegan yang membuat Daisy menjadi satu-satunya poros dalam cerita ini. Daisy bisa jadi adalah punching bag dan bahan penyiksaan para pria dalam ‘The Hateful Eight’, namun dialah satu-satunya yang memegang kendali. Bahkan dalam keadaan babak belur, Daisy tetap kuat dan karakternya yang “blangsak” membuat karakternya paling bersinar.

Film ini ibarat versi “Western” dari ‘Reservoir Dogs’, film Tarantino tahun 1992. Semua karakter mempunyai motivasi sendiri-sendiri dan tentu saja semuanya akan berakhir dengan darah dan kopi yang diracuni. Penceritaannya juga bolak balik seperti gaya Tarantino yang khas. Sayangnya, dalam waktu hampir tiga jam, ‘The Hateful Eight’ terasa lama dan kurang tepat sasaran. Dengan tempo yang lebih teratur, film ini akan menjadi tontonan yang lebih bersahabat. Meskipun begitu, film ini tetap merupakan tontonan khas Tarantino yang tidak hanya menghibur namun juga berkesan.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads