'Bridge of Spies': Sang Pengacara Jembatan Perang Dingin Soviet-Amerika

'Bridge of Spies': Sang Pengacara Jembatan Perang Dingin Soviet-Amerika

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 30 Okt 2015 13:56 WIB
Jakarta - Apapun yang dimasak oleh Spielberg dan Tom Hanks sudah pasti sayang untuk dilewatkan. Setelah ‘Saving Private Ryan’ yang mengharu biru, ‘Catch Me If You Can’ yang seru dan ‘The Terminal’ yang cukup kocak, keduanya kembali berkolaborasi dalam sebuah drama pasca Perang Dingin yang diilhami dari kisah nyata, berjudul ‘Bridge of Spies’. Yang menarik, kali ini Spielberg mendapatkan resep langsung dari Matt Charman dan Coen Brothers.

James B. Donovan (Tom Hanks) adalah seorang pengacara Brooklyn yang ditugaskan untuk menangani seorang klien yang dituduh sebagai mata-mata Rusia. Rudolf Abel (Mark Rylence) nyatanya adalah seorang pribadi yang menarik meskipun dia mata-mata. Hobinya melukis dan sikapnya yang cenderung santai membuat Donovan menaruh simpati kepadanya.

Ketika semua orang yang ada di sekitarnya, tidak hanya para petinggi hukum namun juga keluarganya, memilih untuk menghukum Abel seberat-beratnya, Donovan melihat kasus ini dari sudut pandang yang berbeda. Tidak peduli dari mana Abel atau apa yang dia kerjakan, menurutnya ia pantas mendapatkan pembelaan. Ketika Abel akhirnya dinyatakan bersalah, Donovan pun mengajukan permintaan kepada sang hakim agar hukuman Abel diringankan. Kalau-kalau, warga Amerika mendapatkan ‘musibah’ yang sama seperti Abel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dan, benar saja, pilot mata-mata Amerika, Powers (Austin Stowell) ditangkap saat mengudara di wilayah Rusia. Sementara itu pelajar Amerika bernama Pryor (Will Rogers) juga ditangkap saat mengantarkan kekasih menyeberangi Jerman Timur. Kini giliran Donovan untuk mendapatkan kembali dua warga Amerika itu di tengah-tengah urusan birokrasi politik ruwet di masa paling menegangkan yang pernah ada.

Seperti yang bisa diprediksi, Tom Hanks memberikan kemampuannya yang maksimal. Sebagai kompas moral cerita, Hanks memberikan sentuhan yang lebih dari cukup untuk membuat karakternya enak untuk diikuti, dan membuat penonton bersimpati terhadap apapun yang dia lakukan sepanjang film.

Film ini penuh dengan rasa optimisme yang hangat atas kemanusiaan seperti yang disajikan dalam karya-karya Spielberg sebelumnya. ‘Bridge of Spies’ tidak hanya nampak otentik namun juga menakjubkan. Tentu saja keahlian teknik Spielberg yang sudah berada di level maestro bukanlah hal yang baru. Caranya untuk mengaduk-ngaduk emosi penonton adalah pengalaman yang mengasyikkan meskipun penonton sudah pernah merasakannya dalam film-film sebelumnya.

Isu tentang hak asasi manusia juga bukanlah sesuatu yang baru. Namun isu ini tetap relevan kapan pun diangkat. Dalam ‘Bridge of Spies’, Spielberg berhasil menyampaikannya dengan lugas dengan bumbu-bumbu melodrama yang pas. Kalau bisa disebut kekurangan, film ini mungkin meleset jika penonton berharap mendapatkan sesuatu yang berbeda dari film-film Spielberg yang lain.

Dengan Coen Brothers sebagai salah satu penulis skripnya, ‘Bridge of Spies’ bisa jadi berubah menjadi film yang sinis dan nyinyir seperti film-film Coen Brothers yang lain. Tapi, jangan pula berharap film ini akan se-edgy seperti yang dipertontonkan oleh Kathryn Bigelow dalam ‘The Hurt Locker’ atau ‘Zero Dark Thirty’. 

‘Bridge of Spies’ tetaplah hasil karya Spielberg dari awal sampai akhir yang penuh dengan kehangatan, optimisme terhadap kemanusiaan dan rasa kekeluargaan yang erat. Di tengah suasana yang cukup carut marut —terutama situasi politik di negara kita—kehangatan itu terasa demikian relevan.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.



(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads